SOSIOLOGI

Oleh:M.Alfaris
ANTHONY GIDDENS

Giddens adalah teoritisi sosial inggris masa kini yang sangat penting dan salah seorang dari sedikit teoritisi yang sangat berpengaruh di dunia. Giddens lahir 18 Januari 1938. ia belajar di universitas Hull, di The London School of Economic, dan di Universitas London. Tahun 1961 ia diangkat menjadi dosen di Universitas Leicester. Karya awalnya bersifat empiris dan memusatkan perhatian pada masalah bunuh diri. Tahun 1969, ia beralih jabatan menjadi dosen sosiologi di Universitas Cambridedan sebagai anggota King’s college. Dalam karya-karyanya itu selangkah demi selangkah ia mulai membangun perspektif teoritisnya sendiri, yang terkenal dengan teori strukturasi. Tahun 1984 karya Giddens mencapai puncaknya dengan terbitnya buku the constitution of society outline of the theory of society, yang merupakan pernyataan tunggal terpenting tentang perspektif teori Giddens.
Modernitas memperoleh dinamisnya melalui tiga aspek penting teori strukturasi Giddens: pertama pemisahan waktu dan ruang atau distanciation (meski proses yang makin memisah ini tidak unilinier, tetapi bersifat dialektik). Dalam masyarakat pramodern, waktu selalu dikaitkan dengan ruang dan ukurannya dan kaitan erat antara waktu dan ruang diputus. Dalam hal ini baik waktu maupun ruang “dikosongkan” dari isinya; tak ada waktu dan ruang khusus yang istimewa; keduanya menjadi bentuk yang murni. Dalam masyarakat pramodern, ruang umumnya ditentukan oleh kehadiran secara fisik dan karena itu ditentukan oleh ruang yang lokalisir. Dengan datangnya modernitas, ruang makin lama makin dilepas dari tempat. Berhubungan dengan orang yang berjauhan jarak fisik makin lama makin besar peluangnya. Menurut Giddens, tempat semakin menjadi “phantasmagoric”, artinya, tempat terjadi peristiwa sepenuhnya ditembus dan ditentukan oleh pengaruh sosial yang jauh jaraknya dari tempat terjadinya peristiwa.
Ciri dinamis modernitas yang kedua adalah kepercayaan, yang sangat penting dalam masyarakat modern dipengaruhi oleh sistem abstrak dan oleh pemisah ruang waktu yang sangat besar. Kebutuhan akan kepercayaan dihubungkan dengan pemisahan ruang-waktu ini: “kita tak perlu mempercayai seseorang yang terus menerus kelihatan dan yang aktifitasnya dapat dimonitor secara langsung”. Kepercayaan menjadi perlu bila kita tidak lagi mempunyai informasi lengkap tentang fenomena sosial. Kepercayaan didefinisikan “sebagai kepercayaan terhadap keandalan (reliability) seseorang atau sistem berkenaan dengan sekumpulan kejadian atau hasil tertentu dan kepercayaan itu menyatakan keyakinan terhadap kejujuran atas kecintaan orang lain atau terhadap kebenaran prinsip-prinsip abstrak (pengetahuan teknis). Kepercayaan sangat besar perannya tak hanya dalam masyarakat modern pada umumnya, tetapi juga terhadap tanda simbolik dan sistem keahlian yang membantu memisahkan kehidupan dalam dunia modern. Sebagai contoh, agar ekonomi uang dan sistem hukum berfungsi , orang harus mempunyai kepercayaan terhadapnya.
Ciri dinamis ketiga modernitas adalah refleksivitasnya. Meski refleksivitas adalah gambaran fundamental dari teori strukturasi Giddens (maupun kehidupan manusia menurut pandangannya) namun dalam modernitas refleksivitas mempunyai arti khusus, dimana “praktik sosial terus menerus diuji dan di ubah berdasarkan informasi yang baru masuk yang paling praktis, dan dengan demikian mengubah ciri modernitas itu”.
Karakteristik keterpisahan kehidupan modern menimbulkan sejumlah masalah tersendiri. Orang perlu mempercayai sistem abstrak pada umumnya Dan sistem keahlian pada khususnya. Apa yang telah terjadi? Mengapa kita menderita akibat negatif di dalam panser modernitas? Giddens mengemukakan beberapa alasan, pertama, karena kessalahan rencana dalam dunia modern; orang yang merencanakan unsur-unsur dunia modern membuat kesalahan. Kedua, adalah kegagalan operatornya, masalahnya bukan berasal dari perencanaan , tetapi dari mereka yang menjalankan dunia modern. Namun Giddens memberikan peran utama pada dua faktor lain akibat tak diharapkan dan refleksitas pengetahuan sosial. Artinya, konsekuensi dari tindakan untuk sebuah sistem tak pernah dapat diramalkan sepenuhnya dan pengetahuan baru terus-menerus memberangkatkan sistem menuju kearah baru.
Dengan mengemukakan pandangannya tentang modernitas seperti itu, lalu bagaimana pendiriannya tentang post-modern? Ia menolak sebagian besar pendirian yang biasa kita kaitkan dengan post-modernisme. Sebagai contoh, bagian pemikiran post-modernisme yang menyatakan tak mungkinnya menciptakan pengetahuan sistematis, dikatakan Giddens bahwa pandangan seperti itu membawa kita kepada “penolakan aktivitas intelektual sama sekali”. Meski ia melihat kita hidup di era yang sangat modern, Giddens yakin ada peluang kini untuk mendapat pandangan selintas tentang post-modern. menurut pandangan Giddens, kehidupan post-modern itu akan ditandai oleh teratasinya kelangkaan sistem, makin meningkatnya demokratisasi, demiliterisasi, dan memanusiakan teknologi.

Modernitas dan Identitas
Transformasi dalam identitas diri dan globalisasi adalah dua kutub dialektika kondisi lokal dan global modernitas. Perubahan aspek keintiman kehidupan pribadi berkaitan langsung dengan kemapanan hubungan sosial yang paling luas cakupannya. Untuk pertama kalinya dalam sejarah manusia “diri” dan “masyarakat” saling berkaitan dalam lingkungan global.
Giddens mendefinisikan dunia modern sebagai dunia refleksi dan ia menyatakan “refleksivitas modernitas meluas hingga ke inti diri, kedirian menjadi sebuah proyek refleksif”. Artinya, diri menjadi sesuatu yang direfleksikan, diubah, dan dibentuk. Tak hanya individu bertanggung jawab untuk menciptakan dan memelihara kedirian, tetapi tanggung jawab ini pun berlanjut dan mencakup semuanya. Diri adalah produk dari eksplorasi dan produk dari perkembangan hubungan sosial yang intim. Dalam kehidupan modern, bahkan tubuh “tertarik ke dalam organisasi refleksif kehidupan sosial”. Kita tak hanya bertanggung jawab merencanakan diri kita sendiri, tetapi juga tubuh kita.
Dunia modern menimbulkan “keterasingan pengalaman” atau roses yang berkaitan dengan penyembunyian yang memisahkan rutinitas kehidupan sehari-hari dari fenomena-fenomena sebagai berikut: kriminalitas, penyakit dan kematian, dan seksualitas. Keterasingan terjadi karena akibat dari meningkatnya peran sistem abstrak dalam kehidupan sehari-hari. Keterasingan ini membawa kita kepada keamanan ontologis yang makin besar, tetapi dengan resiko “mengesampingkan kehidupan sosial dari masalah eksistensial fundamental yang menimbulkan dilema moral utama bagi umat manusia.
Meski modernitas itu ibarat pedang bermata dua, yakni membawa perkembangan positif dan negatif, menurut Giddens modernitas itulah yang melandasi “bayangan ancaman tentang ketidak berartian pribadi”.

Modernitas dan Intimasi
Giddens mengangkat berbagai tema ini dalam The transformation of Intimacy (1992). Dalam buku ini ia memusatkan perhatian pada transformasi keintiman terus-menerus yang menunjukkan gerakan menuju konsep penting lain dalam pemikirannya mengenai dunia modern, yakni konsep hubungan murni atau situasi dimana hubungan sosial berlangsung demi kepentingan hubungan sosial itu sendiri, demi sesuatu yang bakal didapatkan oleh setiap orang dari meneruskan hubungan dengan orang lain, dan hubungan itu hanya dapat akan dilanjutkan sejauh diperkirakan oleh kedua belah pihak dapat memberikan kepuasan yang cukup bagi setiap orang yang berhubungan tersebut. Dalam hal keintiman, hubungan murni ditandai oleh komunikasi emosional dengan diri sendiri dan dengan orang lain dalam konteks hubungan seksual dan kesamaan emosional. Demokratisasi hubungan antar pribadi pada umumnya, tetapi juga demokratisasi hubungan dalam susunan kelembagaan makro. Perubahan sifat hubungan intim, dimana wanita makin penting peranannya dan lelaki tertinggal, membawa implikasi revolusioner bagi masyarakat secara keseluruhan.
Dalam kehidupan modern, keintiman dan seksualitas telah terasingkan. Tetapi meski keterasingan membesaskan berbagai jenis perasaan dari keintiman dalam masyarakat tradisional, keterasingan ini juga merupakan sebuah penindasan. Upaya refleksif untuk menciptakan hubungan hubungan intim murni harus dilakukan dalam konteks yang terpisah dari masalah etika dan moral yang lebih luas. Tetapi, tatanan kehidupan modern ini mendapat tekanan karena orang, khususnya wanita berupaya merenungkan diri mereka sendiri dan orang lain. Giddens tak mengusulkan kebebasan seksual atau pluralisme seksual, tetapi lebih mendesakkan perubahan moral dan etika lebih besar, sebuah perubahan yang telah ia lihat berlangsung dalam hubungan intim.

Masyarakat Berisiko
Dalam karya Giddens tentang modernitas, Giddens menyatakan:
“modernitas adalah kultur berisiko. Ini bukan berarti bahwa kehidupan sosial kini lebih berbahaya dari pada dahulu, bagi kebanyakan orang itu bukan masalah. Konsep resiko menjadi masalah mendasar baik dalam cara menempatkan aktor biasa maupun aktor yang berkemampuan spesialis teknis dalam organisasi kehidupan sosial. Modernitas mengurangi resiko menyeluruh bidang dan gaya hidup tertentu, tetapi pada waktu bersamaan memperkenalkan parameter risiko baru yang sebagian besar atau seluruhnya tidak dikenal diera sebelumnya”.
Beck menamakan masyarakat baru atau yang baru muncul ini modernitas refleksif. Sebuah proses individualisasi yang kini terjadi di Barat. Yakni, agen-agen semakin bebas dari paksaan struktural dan karenanya semakin mampu menciptakan secara refleksif diri mereka sendiri dan masyarakat di mana mereka hidup.
Beck melihat terhentinya modernitas dan transisi dari masyarakat industri klasik ke masyarakat berisiko yang meski berbeda dari pendahulunya namun masih terus mempunyai berbagai ciri masyarakat industri. Masalah sentral dalam modernitas klasik adalah kekayaan dan bagaimana cara mendistribusikannya dengan lebih merata. Masalah sentral dalam modernitas yang lebih maju adalah risiko dan bagaimana cara mencegah, meminimalkannya, atau menyalurkannya. Dalam modernitas klasik, cita-citanya adalah persamaan, sedangkan dalam modernitas yang lebih maju cita-citanya adalah keselamatan. Dalam modernitas klasik orang mencapai solidaritas dalam mencari-cari tujuan positif persamaan, tetapi dalam modernitas yang lebih maju upaya untuk mencapai solidaritas itu ditemukan dalam mencari-cari tujuan menghindari bahaya yang sebagian besar bersifat negatif dan defensif.

Menciptakan Risiko
Risiko sebagian besar diciptakan oleh sumber kekayaan dalam masyarakat modern. Secara spesifik, industri dan pengaruh sampingannya menimbulkan sejumlah besar akibat yang berbahaya, bahkan mematikan, bagi masyarakat dunia secara keseluruhan. Dengan menggunakan konsep ruang dan waktu, Beck berpendapat bahwa resiko modernitas ini tidak hanya terbatas pada suatu tempat saja (kecelakaan nuklir di lokasi geografis tertentu dapat membahayakan berbagaa\i bangsa lain) atau tak terbatas dalam waktu (kecelakaan nuklir dapat membahayakan genetik yang mungkin mempengaruhi generasi yang akan datang).
Namun tak seorang individu kaya atau sebuah bangsa kaya pembuat risiko itu yang aman dari risiko. Dalam konteks ini Beck membahas apa yang ia sebut “efek bumerang” pengaruh sampingan dari risiko dapat menyerang kembali ke pusat pembuatnya. Agen modernisasi itu sendiri jelas ketularan bahaya atau risiko yang mereka lepaskan.

Mengatasi risiko
Walaupun modernisasi terdahulu menghasilkan risiko, ia juga menghasilkan refleksifitas yang memungkinkannya untuk mempertanyakan dirinya sendiri dan risiko yang dihasilkan. Pada kenyataannya, seringkali rakyat itu sendiri yakni korban dari risiko itu, yang mulai merefleksikan risiko modernisasi itu. Mereka mulai mengamati dan mengumpulkan data tentang risiko dan akibatnya bagi rakyat. Merekalah yang menjadi ahli yang mempertanyakan modernitas terdahulu dan bahayanya. Mereka melakukan ini sebagian karena mereka tak lagi percaya kepada ilmuwan dalam meneliti ancaman bahaya modernisasi itu. Memang Beck sangat keras mengecam ilmuwan karena peran mereka dalam menciptakan dan memelihara masyarakat berisiko. Ilmu telah menjadi pelindung kontaminasi global terhadap penduduk dan sumber daya alam. Tak berlebih-lebihan bila dikatakan bahwa dalam cara mereka menanggulangi risiko di berbagai kawasan, ilmu telah menghambur-hamburkan dengan sia-sia reputasi historisnya demi rasionalisasi.

http://www.google.com/imgres?imgurl=http://2.bp.blogspot.com/_usj_UprWIx0/S1rlrBcd7LI/AAAAAAAAABI/yiC4nV_5O0Y/s200/imgAnthony%2BGiddens1.jpg&imgrefurl=htt

One thought on “SOSIOLOGI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s