PIERRE BOURDIEU

BIOGRAFI PIERRE BOURDIEU

Beliau lahir dengan nama Pierre Felix Bourdieu di Denguin (Pyrénées-Atlantiques), di Perancis selatan pada tanggal 1 Agustus 1930. Bourdieu tumbuh di keluarga kelas menengah kebawah. Pada awal tahun 1950-an Bourdieu mengikuti kuliah, dan mendapatkan ijazah dari Institut Keguruan di Perancis Ecole Normale Superieure. Ia menikah dengan Marie-Claire Brizard pada tahun 1962, dan memiliki tiga putra, Jerome, Emmanuel dan Laurent.

Bourdieu belajar filsafat dengan Louis Althusser di Paris di École Normale Superieure. Setelah mendapatkan ijin mengajarnya, Bourdieu bekerja sebagai guru di Moulins Lycée 1955-1958. Kemudian pada 1956 Bourdieu mengikuti wajib militer untuk Perancis dan mengambil posisi sebagai dosen di Aljazair. Selama Perang Aljazair di 1958-1962, melakukan penelitian etnografi. Bourdieu dalam bentrokan itu melalui penelitian yang Kabyle masyarakat, dari Berber meletakkan dasar bagi reputasi antropologi-nya. Hasilnya adalah buku pertamanya, Sociologie de L’Algerie (The Aljazair), yang langsung sukses di Perancis dan diterbitkan di Amerika tahun 1962.

Setelah dua tahun mengikuti wajib militer, Bourdieu kembali ke Perancis dan mengikuti kuliah Levi-Strauss di College de France, lalu bekerja sebagai asisten Sosiolog Raymon Aron. Bourdieu pindah ke Universitas Lille selama tiga tahun dan kemudian memperoleh posisi kuat sebagai Direktur Studi di L’ecole Practique des Hautes pada 1964.

Pada tahun-tahun berikutnya Bourdieu menjadi tokoh utama lingkaran intelektual di Paris, Perancis dan akhirnya di dunia. Karyanya mempengaruhi sejumlah bidang berbeda, termasuk pendidikan, antropologi,dan sosiologi. Ia mengumpulkan satu kelompok pengikutnya pada tahun 1960-an, dan sejak saat itu pengikutnya berkolaborasi engannya dan memberikan sumbangsih intelektual bagi dirinya sendiri. Pada tahun 1968 Centre de Sociologie Europeenne didirikan, dan Bourdieu menjadi Direktur sampai ia wafat. Yang dikaitkan dengan pusat studi ini adalah proyek penerbitan unik, Actes de la Recherche en Sciences Sociales, yang menjadi pajangan penting bagi karya Bourdieu dan para pendukungnya. [1]

Pada 1981 jabatan prestisius di jurusan sosiologi College de France lowong karena Raymond Aron pensiun, dan beberapa sosiolog penting Perancis seperti Raymond Bouddon dan Allain Touraine saling berkompetisi untuk memperoleh jabatan itu. Namun jabatan sebagai itu dianugerahkan kepada Bourdieu, dan reputasi Bordie semakin berkembang dari sebelumnya.

Pada tahun 1975, dengan kelompok riset ia terbentuk di Centre de Sociologie Européenne, ia meluncurkan jurnal interdisipliner Actes de la halus en Sociales ilmu, yang ia berusaha untuk mengubah aturan yang berlaku sementara produksi sosiologis buttressing kekakuan ilmiah sosiologi. Pada tahun 1993 ia mendapat kehormatan dengan “Médaille d’atau du Centre National de la halus Scientifique” (CNRS). Pada tahun 1996, ia menerima Hadiah Goffinan dari University of California, Berkeley dan pada tahun 2001 Medali Huxley dari antropologi Royal Institute Bourdieu. Meninggal karena kanker pada usia 71.[2]

 

TEORI HABITUS DAN LINGKUNGAN

Sebenarnya Teori Piere Bourdieu didasari oleh keinginan untuk menanggulangi apa yang Bourdieu anggap sebagai kekeliruan dalam mempertentangkan antara objektivisme dan subyektivisme, atau antara individu dan masyarakat. Sebelumnya, ia menganggap  pemikiran Durkheim, strukturalisme Saussure, Levi Strauss, dan structural Marxis sebagai teoritisi obyektivisme, yang banyak menuai kritik karena mengabaikan agen dan keagenan. Berbeda dengan hal itu, Bourdieu cenderung menyukai teoritisi strukturalis ,namun tidak mengabaikan agen . Maka dari itu, ia pun terinspirasi oleh penganut subyektivisme seperti : Sartre, Schutz, Blumer, dan Garfinkel yang dianggap sebagai contoh subjektivisme.

Bourdieu memusatkan perhatiaan pada praktik untuk mengelakkan dilema antara obyektivisme dan subyektivisme . Disebabkan karena menurutnya praktik merupakan hasil hubungan dialektika antara struktur dan keagenan . Dalam hal ini praktik tidak ditentukan secara obyektif , tetapi bukan pula hasil dari kemauan bebas.

Boerdieu akhirnya memberikan nama orientasi teoritisnya sebagai strukturalisme genetis/  strukturalisme kontruktivis/ kontruksialisme stukturalis.

Walaupun Bourdieu dapat berhasil membatasi stukturalisme dan kontruktivisme, namun karyanya menunjukan kecenderungan pada arah strukturalisme, yakni dengan banyaknya kesamaan dengan strukturalisme daripada kontruktivisme.. Berbeda dengan kebanyakan teoritisi lain , menurutnya cara actor merasa berdasarkan posisinya dalam membangun kehidupan sosial adalah penting, namun persepsi dan konstruksi yang ada didalamnya itu digerakkan dan dikendalikan oleh stuktur  Hal itu tercermin dalam definisinya mengenai persepktif teoritisnya  bahwa analisis struktur objektif  tidak dapat dipisahkan dari analisa asal usul struktur mental actor individual yang hingga pada taraf tertentu adalah produk dari gabungan gstruktur sosial itu sendiri. [3]

Jadi konsep inti dari teori habitus dan lingkungan adalah usaha Bourdieu dalam menjembatani subjektivisme dan objektivisme (Aldridge, 1998) dan mengulas hubungan dialektika  keduanya (Swartz, 1997), dimana posisi habitus yang berada di dalam pikiran actor  sementara lingkungan berada di luar pikiran aktor.

 

Habitus

Konsep Bourdieu tentang habitus diilhami oleh pemikiran Marcel Mauss ‘teknik tubuh dan hexis. Kata itu sendiri dapat ditemukan dalam karya Norbert Elias, Max Weber, Edmund Husserl dan Erwin Panofsky[4] habitus adalah struktur mental atau kognitif  yang digunakan actor untuk menghadapi kehidupan sosial. Karena actor telah diberikan serangkaian skema atau pola yang diinternalisasikan  yang digunakan untuk untuk merasakan memahami, menyadari dan menilai dunia sosial . Secara sederhana habitus merupakan sekian produk perilaku yang muncul dari berbagai pengalaman hidup manusia, yang juga merupakan akumulasi dari hasil kebiasaan dan adaptasi manusia , yang bahkan dapat muncul tanpa disadari.[5]

 

HABITUS

Habitus adalah struktur mental atau kognitif yang dengannya orang berhubungan dengan dunia social. Orang dibekali dengan serangkaian skema terinternalisasi yang mereka gunakan untuk memersepsi , memahami, mengapresiasi, dan mengevaluasi dunia sosial. Habitus diperoleh sebagai akibat dari ditempatinya posisi sosialdalam waktu yang panjang, sehingga habitus bervariasi pada sifat posisi seseorang di dunia tersebut. Jadi, habitus antara orang satu dengan orang lain tidak sama.

Habitus yang termanifestasikan pada individu tertentu diperoleh dalam proses sejarah individu dan merupakan fungsi dari titik tertentu dalam sejarah social tempat ia menempati. Habitus dapat bertahan lama dan dapat pula berubah yakni dipengaruhi oleh arena. Namun, orang mungkin saja memiliki habitus yang tidak pas, menderita sesuatu yang disebut hysteria. Misalnya orang yang tercerabut dari eksistensi agrarisnya di masyarakat prakapitalis kontemporer yang kemudian bekerja di Wall Street. Habitus yang diperoleh di masyarakat prakapitalis tidak memungkinkan orang untuk dapat mengatasi kehidupan di Wall Street.

Habitus menghasilkan dan dihasilkan oleh dunia sosial. Di satu sisi , habitus menstrukturkan struktur artinya habitus adalah struktur yang menstrukturkan dunia social. Di sisi lain, habitus adalah struktur yang terstrukturkan artinya bahwa habitus adalah struktur yang distrukturkan oleh dunia social. Dengan istilah lain Bourdieu menggambarkan habitus sebagai “ dialektika internalisasi eksternalisasi dan eksternalisasi internalisasi. Jadi habitus memungkinkan Bourdieu keluar dari keharusan memilih antar subjektivisme dengan objektivisme, keluar dari kendali filsafat subjek tanpa mengabaikan agen maupun dari kendali filsafat struktur namun tanpa lupa mempertimbangkan efek yang ditimbulkannya pada dan melalui agen.

Praktik inilah yang menghubungkan antara habitus dengan dunia social. Di satu sisi, melalui praktik inilah habitus diciptakan, di sisi lain habitus adalah akibat dari praktik yang diciptakan dunia social. Bourdieu mengemukakan fungsi mediasi praktik ini ketika mendefinisikan habitus sebagai system disposisi yang terstrukturkan dan menstrukturkan yang dibangun oleh praktik dan secara konstan ditujukan pada fungsi- fungsi praktik.

Meskipun habitus adalah satu struktur terinternalisasi yang menghambat pikiran dan pilihan bertindak, namun habitus tidak menentukannya. Tiadanya determinisme ini adalah salah satu hal utama yang membedakan posisi Bourdieu dengan posisi strukturalis arus utama. Habitus sekadar menyarankan apa yang seharusnya dipikirkan orang dan apa yang seharusnya mereka pilih untuk dilakukan. Habitus memberikan prinsip yang digunakan orang untuk memilih strategi yang akan mereka gunakan di dunia social.

Habitus bekerja di bawah level kesadaran dan bahasa, diluar jangkauan pengawasan dan control intropeksi kehendak. Meskipun tidak sadar akanhabitus dan cara kerjanya,habitus memujudkan diri disebagian besar aktivitas praktis kita seperti cara makan, berjalan, berbicara. Habitus bekerja sebagai struktur, namun orang tidak sekadar merespon secara mekanis terhadapnya atau terhadapa struktur eksternal yang beroperasi padanya.

Konsep Bourdieu tentang habitus diilhami oleh pemikiran Marcel Mauss ‘teknik tubuh dan hexis. Kata itu sendiri dapat ditemukan dalam karya Norbert Elias, Max Weber, Edmund Husserl dan Erwin Panofsky. Bagi Bourdieu, habitus itu penting dalam menyelesaikan sebuah antinomy terkemuka ilmu-ilmu manusia: objektivisme dan subjektivisme. Habitus dapat didefinisikan sebagai suatu sistem disposisi (abadi, mengakuisisi skema persepsi, pemikiran dan tindakan). Agen individu mengembangkan disposisi ini sebagai tanggapan terhadap kondisi obyektif itu menemukan. Dengan cara ini, Bourdieu berteori penanaman struktur sosial obyektif ke dalam pengalaman, subyektif mental agen. Untuk bidang sosial tempat tujuan persyaratan peserta untuk keanggotaan, sehingga untuk berbicara, dalam lapangan. Setelah diserap sehingga struktur sosial obyektif menjadi seperangkat disposisi pribadi kognitif dan somatik, dan struktur subjektif tindakan agen kemudian menjadi sepadan dengan struktur tujuan dan urgensi yang masih ada dari bidang social.

Habitus  mengingatkan kita pada konsep-konsep sosiologis yang sudah ada sebelumnya seperti sosialisasi, tapi habitus juga berbeda dari konsep-konsep yang lebih klasik dalam beberapa cara penting. Pertama, aspek sentral dari habitus adalah perwujudan nya: tidak hanya habitus, atau bahkan terutama, fungsi pada tingkat eksplisit, kesadaran diskursif. Struktur internal menjadi terwujud dan bekerja di lebih dalam, praktis dan seringkali cara pra-refleksif. Dalam pengertian ini, konsep tersebut memiliki sesuatu yang sama dengan konsep Anthony Giddens ‘kesadaran praktis.

Demikian Bourdieu melihat habitus sebagai faktor penting yang berkontribusi untuk reproduksi sosial karena merupakan pusat untuk menghasilkan dan mengatur praktik yang membentuk kehidupan sosial. Individu belajar untuk menginginkan apa kondisi memungkinkan bagi mereka, dan tidak untuk bercita-cita apa yang tidak tersedia bagi mereka. Kondisi di mana kehidupan individu menghasilkan disposisi kompatibel dengan kondisi ini (termasuk selera dalam seni, sastra, makanan, dan musik), dan dalam arti pra-disesuaikan dengan tuntutan mereka.

 

ARENA

Arena menurut Pierre Bourdie adalah jaringan relasi antar posisi subyektif yang keberadaan relasi-relasi ini terpisah dari kesadaran dan kehendak individu. Relasi tersebut, bukan intersubyektif antar individu yang menduduki posisi, bisa jadi harapan agen  atau institusi itu terhambat oleh struktur arena itu sendiri.

 

Bourdie melihat arena sebagai lahan pertempuran dimana arena juga merupakan arena perjuangan yang menopang dan mengarahkan strategi yang digunakan oleh orang –orang yang menduduki posisi ini untuk berupaya baik individu maupun kolektif, mengamankan atau meningkatkan posisi mereka dan menerapkan prinsip hierarkisasi yang paling cocok untuk produk mereka. Di sini Bourdieu juga menganalisis arena menjadi 3 konsep:

  1. merefleksikan keutamaan arena kekuasaan, adalah menelusuri hubungan arena spesifik tertentu dengan arena politik
  2. memetakan struktur subyektif hubungan antar posisi di dalam arena tersebut
  3. menentukan sifat habitus agen yang menduduki berbagai jenis agen di dalam arena tersebut

 

Di sisi lain arena juga merupakan hal yang sejenis dengan pasar kompetitif yang di dalamnya berbagai jenis modal (ekonomi, cultural, social, simbolik ) yang digunakan dan dimanfaatkan, namun adalah arena kekuasaan (politik) yang paling penting, hierarki hubungan kekuasaan dalam arena politik berfungsi menstrukturkan semua arena lain.  Sehingga menurut Bourdie modal adalah  segala aspek kebutuhan yang harus dimiliki dan diusahakan oloeh setiap manusiademi menjaga kelangsungan hidupnya baik fisik maupun biologisnya.

Posisi dari berbagai agen di arena tersebut ditentukan oleh jumlah dan bobot relative modal yang mereka kuasai. Bourdie bahkan juga menggunakan gambaran militer untuk menggambarkan arena dengan menyebutnya “penempatan dan pendudukan strategis yang harus dipertahankan dan dikuasai di arena pertempuran”. Adalah modal yang memungkinkan orang mengendalikan nasibnya sendiri maupun nasib orang lain. Dalam ranah ekonomi, modal ekonomni cenderung berupa insentif, modal cultural terdiri dari berbagai pengetahuan yang legitim, modal social terdiri dari hubungan social bernialai antar orang sedangkan modal simbolis tumbuh dari harga diri dan prestise.

Orang yang menduduki posisi dalam arena tersebut menjalankan berbagai macam strategi. Gagasan ini menunjukan actor dalam pemikiran Boudie paling tidak memiliki sedikit kebebasan dimana habitus tidak menegaskan kemungkinan kalkulasi strategi dari pihak agen, namun strategi tidak merujuk pada dijalankannya secara aktif alur tindakan yang berorientasi obyektif yang mematuhi regularitas dan membentuk pola-pola kehendak yang dapat dipahami secara rasional.

 

Boudieu juga melihat bahwa Negara sebagai lahan perjuangan untuk meraih monopoli dari apa yang diselewengkannya sebagai kekerasan simbolis. Ini adalah bentuk kekearsan yang halus, kekerasan yang dijalankan oleh agen social dengan kompleksitasnya (Bourdieu dan Wacquant, 1992 : 167). Dalam gagasan inilah aspek politis karya Bourdieu terlihat jelas. Jadi Boudieu tertarik pada emansipasi orang dari kekerasan ini dan lebih umum lagi dari dominasi kelas dan politik.

Dalam menegaskan arti penting habitus dan arena, Ia tidak mau membedakan individualisme metodologis dengan holisme metodologis. Dia memilih pandangan yang disebut dengan relasionisme metodologis yang pada intinya bahwa ia lebih memperhatikan hubungan antara habitus dengan arena. Ia melihatnya dengan 2 cara. Di satu sisi arena mengkondisikan habitus sedangkan disisi lain habitus menciptakan arena sebagai sesuatu yang bermakna yang memiliki rasa dan nilai dan yang layak untuk mendapatkan strategi energi.

 

v    DISTINGSI

Dalam karya distingsi ini, Bourdieu ingin menunjukkan bahwa kebudayaan dapat menjadi objek sah studi ilmiah. Ia mencoba mengintegrasikan kembali kebudayaan dalam pengertian “budaya tinggi” (misalnya lebih suka musik klasik) dengan pemahaman antropologis atas kebudayaan, yang melihat pada segala bentuknya, tinggi maupun rendah. Lebih spesifik lagi, Bourdieu menghubungkan selera akan makanan yang dimasak khusus dan berselera tinggi dengan makanan yang hanya terbuat dari bahan-bahan pokok.

Karena struktur, khususnya arena dan habitus, cenderung ajek, maka preferensi kultural dari berbagai kelompok di dalam masyarakat (khususnya kelas dan fraksi kelas) menciptakan sistem yang koheren. Bourdieu memusatkan perhatian pada variasi “selera” estetis, disposisi yang diperoleh untuk membedakan beragam objek kultural kenikmatan estetis dan memberinya apresiasi secara berbeda. Selera juga merupakan praktik yang diantaranya berfungsi memberi individu, maupun orang lain, pemahaman akan tempatnya di dalam tatanan sosial. Selera menyatukan mereka yang memiliki preferensi serupa dan membedakannya dari mereka yang mempunyai selera berbeda. Dengan demikian, melalui proses tersebut dapat megklasifikasikan dirinya sendiri. Kita mampu mengkategorikan orang menurut selera yang mereka perlihatkan, misalnya preferensi mereka pada jenis musik atau film yang berbeda. Praktik-praktik ini, seperti praktik lainnya yang perlu dilihat dalam konteks hubungan timbal balik, yaitu dalam totalitas. Jadi selera-selera seni ataupun film terkait dengan preferensi makanan, olahraga, dan gaya rambut.

Dua arena terkait satu sama lain masuk ke dalam studi Bourdieu tentang selera-hubungan kelas (khususnya dengan fraksi kelas dominan) dan hubungan kultural. Ia melihat arena-arena ini sebagai serangkaian posisi yang didalamnya berbagai “permainan” dijalankan. Selera adalah kesempatan baik untuk mengalami dan menyatakan posisi seseorang di dalam arena tersebut. Namun arena kelas sosial membawa banyak dampak bagi kemampuan seseorang untuk memainkan permainan ini; mereka yang mempunyai kelas lebih tinggi mampu membuat selera mereka iterima dan menentang selera mereka yang berada pada kelas lebih rendah. Jadi, dunia karya-karya kultural dengan dunia kelas sosial yang hierarkis dan dengan sendirinyanya karya-karya itu juga bersifat hierarkis dan menciptakan hierarki.

Bourdieu menggabungkan habitus dengan selera, selera dibentuk oleh disposisi yang mengaka kuat dan bertahan lama daripada opini permukaan dan verbalisasi. Bahkan preferensi seseorang atas aspek luar kebudayaan seperti pakaian, perabot, dan masakan dibangun oleh habitus. Disposisi disposisi inilah yang “yang membentuk kesatuan tak-sadar suatu kelas” (1984). Selanjutnya Bourdieu mengemukakan “Selera adalah pengatur pertandingan … yang di dalamnya habitus menegaskan kedekatannya dengan habitus lain”. Secara dialektis, Struktuk kelas yang menciptakan habitus.

Bourdieu melihat kebudayaan sebgai semacam ekonomi atau pasar. Di dalam pasar ini, orang memanfaatkan modal kultural katimbang modal ekonomi. Modal kultural ini merupakan akibat dari asal usul sosial orang dan pengalaman pendidikan mereka. Di pasar inilah orang yang memiliki modal dan menggunakannya sehingga mampu meningkatkan posisi mereka atau malah mengalami kerugian yang pada gilirannya menyebabkan merosotnya posisi mereka dalam ekonmi.

Orang mengupayakan distingsi di berbagai arena kultural, seperti minuman yang diminum (perrier atau cola), mobil yang dikendarai (mercedes benz atau ford escort), koran yang dibaca (the new york times atau USA today), dan tempat wisata yang dikunjungi (rivera perancis atau disney world). Hubungan distingsi secara obyektif tertera dalam produk-prodk ini dan diaktfkan ulang setiap kali digunakan. Menurut Bourdieu “arena total dari arena-arena ini menawarkan kemungkinan yang hampir tiada batasnya untuk mencapai distingsi”(1984). Penggunaan barang-barang kultural tertentu (seperti mercedes benz) melahirkan “laba”, sementara itu penggunaan barang lain (Escort) tidak memberikan laba, atau bahkan menyebabkan “kerugian”.

Menurut Bourdieu (1998) “kekuatan yang mendorong perilaku manusia adalahpencarian distingsi”. Namun tujuan utamanya “hadir dalam ruang sosial, menduduki suatu posisi atau menjadi individu di dalam suatu ruang sosial, berarti membedakan, menjadi berbeda … ditempatkan di suatu ruang tertentu, seseorang … dibekali dengan kategori persepsi, dengan skema klasifikasi, dengan selera tertentu, yang memungkinkannya menciptakan perbedaan, membedakan dan memilah-milah”.[6] Untuk contohnya : orang yang memilih piano berbeda dengan orang yang memilih akordion. Dapat dijelaskan bahwa yang memilih piano memiliki nilai distingsi, sedangkan yang memilih akordion dipandang kampungan (dilihat dari sudut pandang penggemar piano). Hal ini akibat dari dominannya sudut pandang dan kekerasan simbolis yang dipraktikkan untuk menentang mereka yang mengadopsi sudut pandang lain.

Terjadinya dialektika antara sifat produk kultural dengan selera. Perubahan barang-barang kultural mengarah pada perubahan selera, namun selera-pun cenderung mengakibatkan transformasi produk kultural. Struk arena tidak hanya mengondisikan hasrat konsumen barang-barang kultural namun juga menstrukturkan apa yang diciptakan produsen untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan tersebut.

HOMO AKADEMIKUS

“Arena universitas, seperti halnya arena lain,adalah lokus pertarungan menentukan syarat dan kriteria hierarki yang legitim, yaitu, menentukan bagian mana yang relevan, efektif dan dapat berfungsi sebagai modal sedemikian rupa sehingga dapat membangun keuntungan spesifik yang dijamin oleh arena ini” (1984).

Perhatian Bourdieu diarahkan pada hubungan antara posisi objektif arena akademis berbeda, habitus terkait, dan pertarungan antar mereka. Bourdieu ingin mengaitkan arena akademis dengan erena kekuasaan yang lebih luas. Hubungan antara dua habitus ini, struktur perguruan tinggi “mereproduksi dengan logika akademis khas struktur arena kekuasaan yang memberinya akses”. Dan secara dialektis, struktur arena akademis melalui seleksi dan indoktrinasi memberikan sumbangsih bagi reproduksi arena kekuasaan.

Bourdieu menganggap bahwa akademisi Perancis terbagi-bagi kedalam bidang hukum dan kedokteran yang dominan dan bidang-bidang sains pada batas tertentu seni. Pemisahan paralel dengan pemisahan dalam arena kekuasaan, yang di dalamnya mereka memiliki kompetensi sosial dominan berada pada posisi dominan dan mereka yang memiliki kompetensi saintifik secra sosial berada pada posisi subordinat. Naum fakta yang ada, akademisi adalah hierarki sosial (yang mencerminkan arena kekuasaan sekaligus sistem stratifikasi sosial dan tempat bercokolnya kekuasaan ekonomi dan politik) dan hierarki kultural yang diatur oleh modal kultural yang berasal dari otoritas ilmiah atau pengakuan luas secara intelektual. Di ranah kultural, hierarki disiplin akademis justru terbalik : sains ada di puncak, dengan hukum dan kedokteran yang berda di bawahnya. Jadi lebih umum lagi, oposisi antara arena ekonomi-politik dengn arena kultural diperebutkan di dalam sistem universitas Perancis.

Pertarungan ini tidak hanya dilakukan antar fakultas, namun juga di dalam fakultas seni, yang terjebak diantara kehidupan sosial dengan kehidupan ilmiah. Jadi fakultas seni adalah “sudut pandang istimewa untuk mengamati pertarungan antar kedua jenis kekuasaan universitas”. Beberapa anggota fakultas seni memiliki kekuasaan sosial (atau akademis) yang berasal dari peran mereka dalam universitas sebagai tempat diajarkannya pengetahuan legitim. Modal mereka diperoleh dalam universitas melalui kontrol atas pendidikan dan produksi generasi penerus akademisi. Ada pula orang-orang fakultas seni yang memiliki kekuasaan spesifik yang berasal dariketenaran intelektual mereka di dalam bidang tertentu. Kedua jenis akademisi ini bertarung untuk meraih kekuasaan di dalam fakultas seni di arena sistem universitas Perancis.

Di dalam hierarki arena akademis, otoritas seorang profesor untuk mengatur mahasiswa pasca sarjana dan dosen junior untuk patuh agar mereka tidak terlalu independen. Karena dalam arena ini, struktur tertinggi adalah profesor yang telah mempunyai pengakuan akademis dari lembaga pendidikan, sedangkan mahasiswa pascasarjana dan dosen junior berada di level berikutnya. Inilah yang dimaksudkan Bourdieu dengan “ orang baru keranjingan ketika ia berada di tengah-tengah arena”.

Jumlah dan prestise subordinat meningkatkan prestise profesor yang telah mapan. Prestise seorang profesor akan meningkat seiring dengan jumlah pengikut yang meningkat, dan dengan demikian pengaruh dari profesor itu akan menjai lebih besar di arena akademis. Dan seperti yang dikemukakan Bourdieu dengan “modal mengembangbiakkan modal”.  Dalm hal ini, gelar profesor adalah modal, dan dengan merekrut mahasiswa untuk membantu dalam penelitian atau-pun kegiatan lainnya. Sang profesor ini akan lebih meningkatkan prestisnya. Dan peningkatan prestis dari profesor inilah yang dinamakan “mengembangbiakkan modal”.  Ada kecenderungan mahasiswa yang ambisius tertarik pada profesor ambisius, akbibatnya mereka lebih dekat secara sosial daripada secara intelektual.

-Sistem akademis sayarat dengan pamrih-

Profesor tua tidak siap dengan gangguan yang datang dan beberapa pendatang baru menolak untuk menunggu dengan sabar, jadi profesor muda dan senior terjadi benturan antara habitus yang ada dengan berubahnya sifat arena tersebut. “Profesor lama terus ‘bekerja tanpa orkestrasi sadar untuk mempertahankan kekonstanan sosial lembaga keprofesoran mereka”. Selanjutnya, profesor itu khawatir dengn pendatang baru yang mampu masuk (arena = sistem universitas) dengan “harga diskon” (tanpa melalui proses hieraki), karena dalam kasus ini, dosen baru yang menempati posisi akademis subordinat, mereka mendekatkan diri pada mahasisa untuk menciptakan revolusi.

Menurut Bourdieu, konflik tidak terjadi pada dosen tua dengan dosen muda, tetapi antara dua kelompok dosen muda. Kelompok yang pertama adalah kelompok yang menginternalisasikan habitus generasi sebelumnya dan yang memiliki peluang mewarisi hierarki akademis. Kelompok yang kedua, merupakan kelompok yang menentang yakni kelompok dengan habitus berbeda, yang tumbuh dari fakta bahwa mereka hanya memiliki prospek karis sedikit, itupun kalau ada. (mereka yang melihat adanya hambatan bagi peluang mobilitas vertikal cenderung manjadi orang-orang yang melakukan protes.

http://mustika.blog.fisip.uns.ac.id/2010/10/26/pierre-bourdieutugas-kelompok-teori-posmodernsosiologi-2008/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s