Robert K. Merton

Robert King Merton (biasa disingkat Robert K. Merton) lahir pada tanggal 4 Juli 1910 di pemukiman kumuh di Philadelphia Selatan. Awal mengubah namanya adalah pada usia 14 tahun, dari Meyer R. Schkolnick ke Robert Merlin kemudian menjadi Robert K. Merton. Ayahnya bekerja sebagai tukang kayu dan sopir truk. Keluarganya adalah imigran yahudi. Merton dibesarkan dalam semangat belajar yang sangat tinggi. Sebagai seorang anak, Merton selalu ditemukan sedang membaca buku di Carnegie Library.

Karena kepandaian Merton, ia mendapatkan beasiswa di Universitas Temple. Dari universitas tersewbut, ia mendapatkan gelar B.A, dan menjadi tertarik dengan sosiologi. Dengan bantuan beasiswa p[ulalah, ia mendapatkan gelar MA dan Ph.D dari Universitas Harvard. Merton adalah murid yang lulus paling awal dan sangat berpengaruh bagi lingkungan disekitarnya.

Beberapa penulis buku teori sosiologi modern mengatakan bahwa Merton adalah murid parsons. Artinya, kalau pendekatan Merton ini bersifat fungsionalisme, hal ini tidak lepas dari pengaruh besar gurunya itu. Tetapi sementara itu ada pula yang menulis bahwa hubungan merton dan parsons adalah sebatas kolega. Parsons adalah seniornya Merton. Mungkin pandangan ini bisa dimengerti ketika kita mengambil bahwa orientasi fungsionalisme sosiologi Merton tidak sama dengan fungsionalisme Parsons. Selain itu, merton juga tidak secara langsung banyak mengkritik pendekatan-pendekatan fungsionalisme parsons, tetapi crak Merton lebih berani.

Selama kuliah di Harvard, Merton banyak dipengaruhi oleh PitirimSorokin yangb tidak terlalu suka pada pekerjaannya Parsons. Sorokin berasumsi bahwa Parsons berteori pada skala luas (makro). Kolega merton yang sangat berjasa lainnya adalah Paul K. Lazarfeld. Lazarfeldlah yang membuat mertom sangat aktif dalam penelitian-penelitian empiris sejak tahun 1941. Kerja sama yang dekat antara keduanya ketika Merton bekerja di Bureau of Applied Social Resarch di Universitas Columbia sampai Lazarfeld meninggal pada tahun 1976. Bahkan merton pernah menjabat sebagai associate director di lembaga tersebut pada tahun 1942-1971. Jasa yang diwariskan Merton pada lembaga ini cukup jelas, yaitu membuat link (hubungan/pertemuan) antara teori dan penelitian, mengukuhkan kajian dan membuat valid beberapa penemuan.

Mungkin bisa kita simpulkan bagaimana bentuk persahabatan antara Paul K. Lazarfeld denga Meron itu hamper sama denagn persahabatan antara Karl Marx dengan Friedrich Engels. Sebuah perpaduan yang pas dalam mengembangkan ilmu pengetahuan, khususnya sosiologi. Kalau merton lebih menguasai dari sisi teori sedangkan lazarfeld lebih kepada empirisme.

Merton telah membuat sebuah buku yang berjudul Social Theory and Social Structure. Dalam buku tersebut, kita dapat melihat bahwa tidak seperti parsons yang banyak berhanti pada tipologi dan teori yang bersifat abstrak, ia merumuskan hipotesis empiris dan mengetesnya dalam dunia nyata dengan mengumpulkan data dan menganalisis hasilnya.

Merton pernah menjadi pimpinan Jurusan Sosiologi di Tulane, sebelum ulang tahunnya yang ke-31 dan dating ke Columbia tahun 1941. Pada tahun 1957, merton terpilih sebagai presiden American Socology Society. Hal yang cukup membanggakan ketika Merton menjadi Sosiolog Amerika pertama yang mendapatkan penghargaan berupa National Medal of Science dari presiden Amerika pada tahun 1994. Lebih dari 20 universitas besar juga memberikan kepadanya gelar kehormatan, termasuk Harvard, Yale, Columbia dan Chicago, Universitas Leiden, Wales, Oslo dan Kraków, Universitas Ibrani Yerusalem dan Oxford.In 1994, Merton was awarded the US National Medal of Science and was the first sociologist to receive the prize. [ 2 ] Pada tahun 1994, Merton dianugerahi US National Medal of Science dan sosiolog pertama untuk menerima hadiah.

Merton was married twice, including to fellow sociologist Harriet Zuckerman .Merton sudah menikah dua kali, termasuk dengan sesama sosiolog Harriet Zuckerman. He had one son and two daughters from the first marriage, including Robert C. Merton , winner of the 1997 Nobel Prize in economics . Dia punya satu putra dan dua putri dari perkawinan pertama, yaitu Robert C. Merton, pemenang tahun 1997 Hadiah Nobel di bidang ekonomi dan putrinya His daughter, Vanessa Merton, is a Professor of Law at Pace University School of Law .Vanessa Merton, yang kini telah menjadi Guru Besar Hukum di Pace University School of Law.

Robert K. Merton wafat pada tanggal 23 Februari 2003 dengan usia 93 tahun.

II. KONSEPTUALISASI

Secara keseluruhan, karya Merton mancerminkan suatu kepekaan yang lebih besar terhadap hubungan dinamis antara penelitian empiris dan proses berteori daripada karya parsons. Tetapi dari segi teoritis, karya merton sudah membuatnya menjadi terpandang sebagai seorang penganalisa fungsional terkemuka dalam sosiologi masa kini yang pendekatannya merupakan suatu altrernatif yang jelas terhadap gaya berteori parsons.

Dengan menghubungkan pada teori tentang bunuh diri Emile Durkheim, gambar bunuh diri pada abad ke-19 di Eropa direvisi oleh merton dengan membuat proposisi-proposisi sebagai berikut [1]) :

a. kohesi social menyediakan dukungan psikis pada anggota kelompok yang menderita kecemasan dan ketegangan yang parah.

b. angka bunuh diri adalah fungsi-fungi kecemasan dan ketegangan yang tidak terbebaskan yang orang derita atau alami.

c. penganut katolik memiliki kohesi social yang lebih besar dibanding dengan penganut protestan. Oleh karena itu, angka bunuh diri lebih sedikit dapat diantisipasi disbanding diantara penganut protestan.

Sementara itu pengaruh dari max weber sangat terlihat jelas dalam Robert K. Merton pada dua hal. Pertama, disertasi doktoralnya membahas tentang hubungan antara protestanisme dan perkembangan ilmu, khususnya pada abad ke-17 di Inggris. Disini pandangan Merton hampir sama dengan Weber, ketika membahas The Protestant Ethic and Spirit of Capitalism. Kedua, ketika membahas mengenai birokrasi. Merton menyatakan bahwa birokrasi memiliki watak-watak sebagai berikut [2]):

– birokrasi meruopakan struktur sosial yang teroganisir secara rasional dan formal

– ia meliputi suatu pola keguatan yang memiliki bataan yang jelas

– kegiatan tersebut berhubungan dengan tujuan-tujuan organisasi

– jabatan dalam organisasi diintegtrasikan kedalasm keseluruhan struktur birokratis

– Status dalam birokrasi tersusun dalam susunan yang bersifat hierarkis

– Hak dan kewajiban birokrai dibatai oleh aturan yang terperinci

– Otoritas pada jabatan, bukan pada orang

– Hubungan antar orang dibatai secara formal

Merton tidak berhenti dalam membahas deskripsi birokrasi, tetapi ia membahas hubungan antara birikrasi dan kepribadian individu. Para birokrat dididik untuk selalu bekerja berdasarkan aturan yang dibuat. Akibatnya ia paif atau hanya sekadar menjalankan fungsi-fungsi dari aturan terebut. Pemahaman mereka tidak samapai pada pemahaman mengapa aturan-aturan tersebut dibuat. Dimana seharusnya aturan hanya berfungsi untuk efisiensi, tetapi malahan menjadi orientasi loyalitas yang berlebihan.

III. PEMIKIRAN

1. Teori Jarak Menengah (Middle Range Theory)

Dengan fasih dan meyakinkan Merton mengemukakan bahwa para ahli sosiologi harus lebih maju lagi dalam peningkatan kedisiplinan dengan mengembangkan “teori-teori taraf menengah” daripada teori-teori besar. Teori taraf menengah itu didefinisikan oleh merton sebagai :

Teori yang terletak diantara hipotesa kerja yang kecil tetapi perlu, yang berkembang semakin besar selama penelitian dari hari ke hari, dan usaha yang mencakup semuanya mengembangkan uato teori terpadu yang akan menjelaskan semua keseragaman yang diamati dalam perilaku social.

Teori taraf menengah pada prinsipnya digunakan dalam sosiologi untuk membimbing penelitian empiris. Dia merupakan jembatan penghubung teori umum mengenai istem social yang terlalu jauh dari kelompok-kelompok perilaku tertentu, organisasi, ddan perubahan untuk mempertanggungjawabkan apa yang diamati, dan gambaran terinci secara teratur mengenai hal-hal tertentu yang tidak di generaliasi sama sekali. [3])

Teori sosiologi merupakan kerangka proposisi yang saling terhubung secara logis dimana kesatuan empiris bisa diperoleh. The middle range theory adalah teori-teori yang terletak pada minor tetapi hipotesis kerja mengembangkan penelitian sehari-hari yang menyeluruh dan keseluruhan upaya sistematis yang inklusif untuk mengembangkan teori yang utuh.

Sedangkan cara kerja hipotesisnya agak lebih dari prosedur common sense. Beberapa ciri The middle range theory [4]) :

1. secara prinsip digunakan untuk panduan temuan-temuan empiris

2. ia merupakan lanjutan dari teori system social yang terlalu jauh dari penggolongan khusus perilaku social, organisasi, dan perubahan untuk mencatat apa yang di observasi dan di deskripsikan.

3. middle range theory meliputi abstraksi, tetapi ia cukup jelas dengan data yang terobservasi untuk digabungkan dengan proposisi yang memungkinkan tes empiris.

4. middle range theori muncul dari ide yang sangat sederhana. seperti yang pernah dipraktekkan oleh ilmuwan eksakta, Gilbert. Teori Gilbert muncul dari asumsi yang sangat sederhana, bumi dibayangkan sebagai manager.

Menyangkut ini semua, Merton berangkat dari sebuah contoh konkrit, yaitu cara-cara integrasi social. Dengan menyilangkan data-data empiris yang berasal dari angket atau penelitian dan konseptualisasi logis kita bisa membentuk lima jenis adaptasi individu tehadap masyarakat, yaitu :

– Kompromisme (individu tunduk pada keinginan kelompok)

– Inovasi (individu menerima nila-nilai kelompok namun tidak menjadikan norma dan prosedur kebiasaan sebagai miliknya sendiri)

– Ritualisme (individu tetap “membeku” dalam cara berprilaku yang baik)

– Pelarian (individu hidup secara marginal dalam masyarakat)

– Memberontak (individu membantah dan menolah norma-norma social yang ada)

2. POSTULAT FUNGSIONAL

– Postulat kesatuan fungsional masyarakat

Postulat ini menyatakan bahwa seluruh kepercayaan dan praktik sosial budaya standar bersifat fungsional bagi masyarakat secara keseluruhan maupun individu dalam masyarakat. Pandangan ni mengandung arti bahwa berbagai bagian sistem sosial pasti menunjukkan tingginya level integrasi. Namun, meskipun hal ini berlaku untuk masyarakat primitif dan kecil, generalisasi dapat diperluas pada masyarakat yang lebih besar dan lebih kompleks.

Misalnya suatu lembaga dalam masyarakat harus mampu memberikan peran untuk anggota masyarakat disekitarnya baik secara individu maupun kelompok.

– Postulat fungsionalisme universal

Menyatakan bahwa semua bentuk dan struktur sosial kultural memiliki fungsi positif. Namun pada kenyataannya, itu semua tidak bisa kita temukan dalam kehidupan yang sebenarnya.

Sebagai contoh misalnya sebuah kebudayaan yang mewajibkan warganya untuk memotong salah satu jari tangannya jika dia sudah menikah. Distau sisis, hal ini dimaksudkan agar si pria tidak akan bisa melakukan perselingkuhan dengan wanita lain. Tapi disisi lain hal ini merupakan bagian dari penyiksaan diri.

Postulat indispensabilitas

Bahwa seluruh aspek standar masyarakat tidak hanya memiliki fungsi positif namun juga merepresentasikan bagian-bagian tak terpisahkan dari keseluruhan.

Postulat ini bisa kita lihat dalam sebuah institusi ataupun sebuah lembaga. Misalnya lembaga keagamaan. Pada lembaga keagamaan, semau struktur yang terkait denganlembaga itu sendiri harus patuh terhadap semua aturan-aturan yang telah ditetapkan. Biasanya, aturan-aturan ini merupakan suatu tindakannya yang positif yang bisa membangun para pengikutnya.

3. ANOMIE DAN PENYIMPANGAN

Konsep anomie yang dijelaskan oleh Merton adalah “The property of the social and cultural structure, not a property of individual confronting that structure”.[5] Anomie adalah bagian dari kebudayaan dan struktur social, bukan bagian dari individu yang ada di dalam struktur itu.

Merton membedakan konsep anomi dengan menyebutkan lingkingan penting individu terdiri dari struktur kebudayaan dan srtuktur sosial.

– Struktur kebudayaan : kerangka nila-nila normatif yang terorganisasi mengatur perilaku umun anggota masyarakat atau kelompok tertentu (pola normatif).

– Struktur sosial : kerangka terorganisasi dari hubungan sisoal yang melibatkan anggota-anggota kelompok masyarakat.

Dari konsep-konsep diatas, maka dapat disimpulkan bahwa anomi adalah kemacetan dalam struktur kebudayaan, yang terjadi terutama pada saat ada ketidaksesuaian yang akut antara norma kebudayaan dan norma tujuan-tujuan serta kapasitas terstruktur secara sosial dari anggota/kelompok untuk bertindak sesuai denbgan mereka. Dalam konsep ini, nilai kebudayaan akan membantu menghasilkan perilaku yang menyimpang dengan amanat nila-nili sendiri.

Istilah anomi, yang berasal dari Emile Durkheim, yang berarti suatu diskontinuitas antara tujuan budaya dan cara yang sah yang tersedia untuk menjangkau mereka. Diterapkan ke Amerika Serikat ia melihat impian Amerika sebagai penekanan pada tujuan kesuksesan moneter tetapi tanpa yang sesuai penekanan pada jalan yang sah untuk berbaris menuju tujuan ini. This leads to a considerable amount of (the Parsonian term of) deviance . Hal ini menyebabkan cukup banyak (dalam jangka waktu Parsonian) penyimpangan. This theory is commonly used in the study of criminology (specifically the strain theory ). Teori ini biasanya digunakan dalam studi kriminologi (khususnya teori strain).

Conformity is the attaining of societal goals by socially accepted means, while innovation is the attaining of those goals in unaccepted ways. Kesesuaian adalah mencapai tujuan-tujuan kemasyarakatan oleh diterima secara sosial berarti, sedangkan inovasi adalah mencapai tujuan mereka dalam cara-cara tidak diterima. Ritualism is the acceptance of the means but the forfeit of the goals. Ritualisme adalah penerimaan yang berarti tetapi kehilangan tujuan. Retreatism is the rejection of both the means and the goals and rebellion is a combination of rejection of societal goals and means and a substitution of other goals and means. Retreatism adalah penolakan baik dari sarana dan tujuan dan pemberontakan adalah kombinasi dari penolakan terhadap tujuan dan sarana sosial dan substitusi tujuan dan sarana lainnya. Innovation and ritualism are the pure cases of anomie as Merton defined it because in both cases there is a discontinuity between goals and means. Inovasi dan ritualisme adalah kasus murni anomi sebagai didefinisikan Merton karena dalam kedua kasus ada diskontinuitas antara tujuan dan sarana.

Dalam kasus anomie dan penyimpangan, kita bisa mengambil contoh sebuah keluarga. Jika seorang anak melakukan penyimpangan atau seuatu keslahan, hal ini tidak murni dikarenakan oleh si anak itu sendiri, melainkan ada faktor eksternal yang mempengaruhinya, misalnya orang tua, teman-teman, bahkan bisa dari sistem sistem yang diterapkan dalam keluarga itu. Maka utuk mempertahankan struktur yang ada di keluarga itu sendiri, orang tua harus memberikan hukuman kepada si anak itu karena telah melakukan penyimpangan.

Pada kaum-kaum strukturalis seperti Merton ini, jika penyimpangan itu terjadi, maka individu yang telah melakukan penyimpangan itu harus diberikan hukuman, karena telah melakukan penyimpangan yang mungkin akan membuat kerusakan struktur.

4. DISFUNGSI

Konsep disfungsi ini sangat berkaitan erat dengan masalah social dan perubahan social. Akibat dari adanya konsep disungsi dapat mengurangi kemampuan beradaptasi dari sistem itu sendiri dan akhirnya membuat ketegangan dan kekacauan dalam sistem itu. Kemudian secara disadari atau tidak, maka sistem itu akan mengalami sebuah perubahan stuktural (perubahan sosial). Berdirinya struktur-strukr yang baru ini akan menghasilkan akibat-akibat baru dan kemudian begitu seterusnya.

Arti dari disfungsi yang sebenarnya adalah kelonggaran atas sebuah perubahan dalam suatu sistem yang bersifat fungsional ataupun non-fungsional.

Contoh dari konsep disfungsi ini adalah undang-undang upah minimum. Undang-undang ini dimaksudkan untuk menguntungkan mereka yang tingkat pendapatannya dibawah tingkat rata-rata. Akan tetapi, dapat dikemukakan bahwa satu hasil sampingan yang tidak dimaksudkan dari perundang-undangan seperti itu adalah bahwa pemilik perusahaan yang menggunakan tenaga buruh yang kurang terampil akan meningkatkan proses kerjanya, dan demikian tingkat pengangguran akan naik. Hal ini akan menjadi sebuah masalah sosial yang akan mengakibatkan sebuah perubahan sosial.

5. REFERENSE GROUP AND COMMON SENSE

Reference group (kelompok referens) adalah kelompok yang merupakan dasar bagi seseorang untuk melakukan penilaian diri, pengembangan diri, dan bimbingan normative. Dalam kelompok ini seseorang tidak harus menjadi anggota dalam kelompok itu.

Teori tentang ini dimulai dengan ide yang sangat sederhana dari James, Baldwin, Mead, dan kembangkan oleh Hyman dan Stouffer bahwa individu mengambil standar dari signifikasi yang lain sebagai dasar evaluasi dan penilaian diri. Sedangkan common sense sesuatu yang didasarkan pada kerangka asumsi bukti diri yang tidak terjelaskan. Common sense menyatakan bahwa semakin besar ia kehilangan yang dialami keluarga dalam bencana massal, semakin parah ia tercabut (Deprive).

Telah jelas bahwa perilaku individu yang berkonfrontasi dengan bencana massal adalah hanya satu dari susunan besar yang tidak terbatas waktu dari situasi khusus dimana teori kelompok referens dapat diterapkan dalam hubungannya dengan teori perubahan dalam staratifikasi social, teori otoritas atau teori anomie.

Robert K. Merton, Strukturalis yang bersahaja…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s