MODERNISASI DESA (Analisis Modernisasi di Desa Kalikudi, Kecamatan Adipala, Kabupaten Cilacap)

 Galih Danariyanto       (09413244004)

Pendidikan Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ekonomi,

Universitas Negeri Yogyakarta

Mata Kuliah Sosiologi Perdesaan dan Perkotaan

Dosen Pengampu Y. C. H. Nani Sutarini, M. Si.

Abstrak

Masyarakat selalu mengalami perubahan sepanjang masa, begitu juga masyarakat di Desa Kalikudi, Kecamatan Adipala, Kabupaten Cilacap. Perubahan yang dialaminya menuju ke arah modernisasi yang saat ini didukung dengan adanya globaliasasi di segala bidang. Modernisasi tersebut merubah bentuk fisik dan nonfisik yang merubah kehidupan masyarakat perdesaan seperti masyarakat perkotaan. Keadaan ini membuat lunturnya perbedaan antara masyarakat desa dan kota karena keduanya telah mendapat pengaruh teknologi komunikasi dan informasi yang hampir sama. Selain itu juga menyebabkan bergesernya ciri perdesaan tradisional menjadi perdesaan yang modern. Menurut Neil Smelser modernisasi mencakup enam bidang kehidupan masyarakat. Dalam kaitannya dengan modernisasi di perdesaan, hal tersebut juga dapat dilihat dari enam bidang kehidupan masyarakat seperti bidang ekonomi, bidang politik, bidang pendidikan, bidang agama, bidang kehidupan keluarga, dan dalam bidang stratifikasi sosial dalam masyarakat.

Kata kunci: modernisasi, perdesaan, perubahan sosial budaya.

  1. A.    Pendahuluan

Setiap masyarakat mengalami perubahan sepanjang masa. Perubahan itu ada yang samar, ada yang mencolok, ada yang lambat, ada yang cepat, ada yang sebagian atau terbatas, ada yang menyeluruh. Perubahan dapat berupa pergeseran nilai sosial, perilaku, susunan organisasi, lembaga sosial, stratifikasi sosial, kekuasaan dan wewenang dan sebagainya. Semua perubahan itu ada yang maju (progress) dan ada yang mundur (Syahrial Syarbaini dan Rusdiyanta, 2009).

Perubahan masyarakat desa saat ini lebih menuju ke arah modernisasi dalam segala bidang. Modernisasi di desa sendiri merubah bentuk fisik desa maupun nonfisik desa itu sendiri. Modernisasi desa membuat perubahan dalam bentuk fisik misalnya ada banyak pembangunan yang dilakukan demi majunya suatu desa. Sedangkan modernisasi di bidang nonfisik dapat berupa perubahan nilai dan norma sosial, perubahan tingkah laku masyarakat desa, perubahan gaya hidup masyarakat desa dan lain sebagainya.

Modernisasi juga merubah ciri mengenai perdesaan yang telah dikemukakan ilmuwan terdahulu. Seperti yang diungkapkan oleh Emile Durkheim dengan solidaritas mekanik dan solidaritas organiknya. Solidaritas mekanik dapat diidentikan dengan kehidupan masyarakat di perdesaan. Sedangkan solidaritas organik diidentikan dengan masyarakat perkotaan. Sedangkan menurut Tonnies masyarakat perdesaan diidentikan dengan gemeinschaft dan masyarakat modern atau kota dengan nama gesselschaft (Stompka, 2008).

Kehidupan masyarakat perdesaan sekarang hampir sama dengan kehidupan masyarakat di perkotaan. Oleh karena itu dalam menganalisis masyarakat desa dan kota saat ini akan mengalami kesulitan dengan adanya modernisasi yang sudah menyebar secara pesat akibat globalisasi. Modernisasi di perdesaan yang digambarkan di atas juga terjadi seperti di Desa Kalikudi, Kecamatan Adipala, Kabupaten Cilacap.

  1. B.     Pembahasan.

Menurut Everret Rogers, modernisasi merupakan proses dengan mana individu berubah dari cara hidup tradisional menuju gaya hidup yang lebih kompleks dan maju secara teknologi serta cepat berubah. Black mendefinisikan modernisasi sebagai proses dengan mana secara historis lembaga–lembaga yang berkembang secara perlahan disesuaikan dengan perubahan fungsi secara cepat dan menimbulkan peningkatan yang belum pernah dicapai sebelumnya dalam hal pengetahuan manusia, yang memungkinkannya untuk menguasai lingkungannya, yang menimbulkan revolusi ilmiah (Abraham, 1991).

Modernisasi saat ini dialami oleh negara-negara berkembang dari kota sampai ke tingkat terkecil seperti desa. Desa saat ini mengalami perubahan sosial dan budaya akibat modernisasi yang cepat di era globalisasi karena teknologi komunikasi dan informasi yang semakin canggih seperti yang terjadi di Desa Kalikudi, Kecamatan Adipala, Kabupaten Cilacap. Modernisasi di Desa Kalikudi sendiri dapat dilihat dalam segala aspek kehidupan masyarakatnya yang semakin kekota-kotaan.

Menurut Bintarto ada beberapa tujuan modernisasi desa yakni:

  1. Modernisasi dapat memberi gairah dan semangat hidup baru serta menghilangkan monotomi dari kehidupan di desa, sehingga warga desa tidak akan merasa jemu dengan lingkungan hidupnya.
  2. Modernisasi desa dapat meningkatkan kesejahteraan sosial ekonomi warga desa, sehingga dapat menahan arus urbanisasi
  3. Modernisasi yang berarti suatu usaha meningkatkan bidang pendidikan secara merata, sehingga akan dapat mengurangi arus pelajar ke kota dan tenaga terdidik akan tetap tinggal di desa membimbing warga desa lain yang belum maju.
  4. Modernisasi di bidang pengangkutan akan secara berangsur menghilangkan sifat isolasi desa.
  5. Modernisasi merupakan tumpuan bagi pengembangan teknologi perdesaan dan dalam proses pengembangnya warga desa dapat diikutsertakan (Bintarto, 1984).

Modernisasi juga menyebabkan perubahan ciri-ciri perdesaan menjadi ada desa tradisional dan desa modern. Beberapa cirri desa tradisional yang dimiliki oleh hampir semua tipe komunitas desa seperti:

  1. Isolasi, dalam hal ini masyarakat perdesaan tradisional masih menutup diri dari dunia luar maupun pengaruh dari luar.
  2. Homogenitas, latar belakang etnik dan budaya yang sama.
  3. Pertanian, mata pencaharian utama.
  4. Ekonomi substensi, memproduksi barang yang dikonsumsi sendiri.

Namun saat ini kondisi mengenai ciri-ciri desa di atas telah mengalami revolusi akibat perkembangan modernisasi dalam hal ilmu pengetahuan dan teknologi, seperti:

1)      Berkurangnya isolasi, menerima adanya perubahan seperti mulai banyaknya teknologi yang digunakan, dibangunnya akses jalan menuju lokasi perdesaan tersebut.

2)      Komersialisasi dan rasionalisasi pertanian, dewasa ini pertanian merupakan pekerjaan kompleks dan membutuhkan keahlian khusus seiring kemajuan teknologi.

3)      Urbanisasi kehidupan desa, dewasa ini tidak mungkin lagi mengidentifikasi orang desa dengan melihat pakaian atau perlakuannya yang kedesa-desaan, media masa yang dipakai di desa dan kota hampir sama sehingga antara orang desa dan orang kota memperoleh informasi yang sama, oleh karena itu perbedaan antara desa dan kota dewasa ini semakin menipis (Horton, Paul B. dan Chester L. Hunt,1992).

Mengenai ciri perdesaan yang tradisional sampai yang sudah mengalami revolusi akibat modernisasi, juga dialami oleh masyarakat Desa Kalikudi. Desa Kalikudi yang dulu terisolasi dari dunia luar karena sulitnya transportasi dan infrastruktur yang buruk untuk menuju ke daerah perkotaan, alat komunikasi yang jarang. Tetapi setelah adanya modernisasi desa isolasi tersebut mulai berkurang ini dapat dilihat dari adanya pembangunan jalan, pendidikan, maupun alat komunikasi yang masuk ke Desa Kalikudi yang semakin beragam.

Ciri tradisional desa yang kedua adalah homogenitas dimana dulu masyarakat Desa kalikudi memiliki latar belakang etnik dan budaya yang sama. Tetapi setelah adanya modernisasi homogenitas tersebut mulai berganti menjadi heterogenitas. Masyarakat yang tinggal di Desa Kalikudi tidak hanya mempunyai latar belakang etnik yang sama tetapi mulai heterogen. Ini dapat dilihat dengan adanya warga Desa Kalikudi yang menikah dengan warga dari luar Desa Kalikudi. Selain itu homogenitas dalam budaya yang sama seperti warga Desa Kalikudi yang dahulu bermata pencaharian hampir sama yaitu petani, tetapi sekarang mata pencahariannya mulai beragam bukan hanya petani tetapi ada pegawai, karyawan, pengusaha, dan lain sebagainya.

Selanjutnya adanya urbanisasi kehidupan desa juga mengubah ciri masyarakat perdesaan saat ini. Dewasa ini tidak mungkin lagi mengidentifikasi orang desa dengan melihat pakaian atau tingkah lakunya yang ndeso, media masa yang dipakai di desa dan kota pun hampir sama sehingga antara orang desa dan orang kota memperoleh informasi yang sama. Hal tersebut juga sesuai dengan situasi dan kondisi masyarakat yang ada di Desa Kalikudi.

Menurut Emile Durkehim membedakan masyarakat tradisional dalam hal ini masyarakat desa mempunyai solidaritas mekanik yang berakar dalam kesamaan fungsi, tugas yang tidak dibeda-bedakan, dan kolektivisme. Untuk solidaritas organic sendiri identik dengan masyarakat modern atau kota yang berakar dalam peran dan pekerjaan yang sangat beragam, saling melengkapi, saling memerlukan dan individualisme. Sedangkan menurut Tonnies masyarakat perdesaan diidentikan dengan gemeinschaft yang ditandai dengan ikatan social bersifat pribadi, akrab, dan tatap muka (primer). Kemudian berubah menjadi masyarakat modern atau kota yang disebut gesselschaft yang ditandai dengan impersonal, termediasi, dan sekunder (Stompka, 2008).

Dengan adanya modernisasi tersebut pendapat mengenai masyarakat tradisional atau desa yang dikemukakan dua ahli tersebut mengalami perubahan menuju masyarakat modern atau dapat dikatakan kekota-kotaan. Hal tersebut ada di Desa Kalikudi yang merupakan salah satu desa di Kabupaten Cilacap yang mengalami modernisasi.

Neil Smelser melukiskan modernisasi sebagai transisi multidimensional yang meliputi enam bidang. Modernisasi di bidang ekonomi berarti: (a) mengakarnya teknologi dalam ilmu pengetahuan; (b) bergerak dari pertanian substensi ke pertanian komersial; (c) penggantian tenaga binatang dan manusia oleh energy benda mati dan produksi mesin; (d) berkembangnya bentuk pemukiman urban dan konsentrasi tenaga kerja di tempat tertentu. Di bidang politik ditandai dengan transisi dari kekuasaan suku ke sistem hak pilih, perwakilan, partai politik, dan kekuasaan demokratis. Di bidang pendidikan modernisasi meliputi penurunan angka buta huruf dan peningkatan perhatian pada ilmu pengetahuan, keterampilan, dan kecakapan. Di bidang agama ditandai oleh sekulerisasi. Di bidang kehidupan keluarga ditandai oleh berkurangnya peran ikatan kekeluargaan dan makin besarnya spesialisasi fungsional keluarga. Di bidang stratifikasi sosial, moderisasi berarti penekanan pada mobilitas dan prestasi individual ketimbang prestatsi yang dimiliki (Stompka, 2008).

Dari pendapat Neil Smelser di atas dapat digunakan dalam manganalisis modernisasi di Desa Kalikudi. Pertama, di bidang ekonomi. Dengan meningkatnya pengggunaan teknologi membuat warga Desa Kalikudi belajar ke luar daerah misalnya untuk belajar mengenai mesin dan bersekolah di SMK ataupun kuliah di Perguruan Tinggi dengan harapan dapat memberikan kemudahan dalam mendapat pekerjaan atau membuat lapangan pekerjaan. Dalam hal pertanian juga mengalami modenisasi yaitu beralihnya ekonomi substensi (untuk konsumsi sendiri) ke ekonomi komersial (hasil pertanian dijual, sawah digadaikan, dll) dan juga penggunaan mesin (seperti traktor, mesin penggiling padi, dll) dalam membantu pengolahan lahan pertanian maupun hasil pertanian. Selain itu ada juga betonisasi irigasi yang digunakan untuk memperlancar maupun mengatur air untuk lahan pertanian. Rumah warga saat ini 80% sudah dibangun secara permanen tidak seperti dahulu yang rumahnya hanya dibuat dari papan kayu (temporer) ataupun setengah permanen.

Dengan berkembangnya modernisasi dalam bidang ekonomi juga menyebabkan meningkatnya urbanisasi dari perdesaan ke kota yaitu dengan adanya beberapa pemuda ataupun pemudi di Desa Kalikudi melakukan urbanisasi dengan harapan bisa bekerja dan memenuhi kebutuhan hidupnya. Selain itu untuk meningkatkan perekonomian desa pemerintah membangun infrastruktur seperti jalan raya yang bisa digunakan sebagai jalur perekonomian. Selain itu dengan kemajuan ekonomi di Desa Kalikudi juga membuat tinggi tingkat konsumsi warga dan standar hidup. Peningkatan tersebut diakibatkan dengan informasi yang diperoleh warga desa semakin mudah yaitu dengan adanya TV. Jadi apa yang dilihat di TV tentang iklan-iklan produk mislanya membuat orang ingin membelinya dan juga apabila melihat gaya hidup orang yang ada di TV orang-orang di desa pun mulai menirunya seperti pakaian, gaya hidup, dan lain sebagainya. Pasar-pasar modern juga mulai berkembang di Desa Kalikudi yaitu dengan adanya minimarket yang mengalahkan peran pasar tradisional. Selain itu usaha-usaha warnet mulai berdiri di Desa Kalikudi, ini membuat anak-anak sekarang lebih suka bermain ke warnet yang notabene membuat pola hidup boros dan konsumtif.

Kedua, dalam bidang politik. Dalam masyarakat Desa Kalikudi dapat dilihat adanya modernisasi dalam bidang politik seperti adanya pemilihan umum kepala desa yang menggunakan alat modern. Kalau dahulu di Desa Kalikudi waktu akan memilih kapala desa menggunakan lidi yang dimasukan ke beberapa tempat oleh pemilih dimana tempat itu adalah milik dari masin-masing calon kepala desa. Hal tersebut dilakukan karena pada waktu itu masih banyak penduduk yang buta huruf. Saat ini dimana penduduk Desa Kalikudi sudah sedikit wrganya yang buta huruf maka pmilihan dilakukan dengan cara modern yaitu dengan memilih gambar yang menjadi symbol calon tersebut seperti ketela, papaya, dll. Selain itu tingkat partisipasi warga dalam pemilihan umum pun cenderung naik dan warga Desa Kalikudi dapat dikatakan cukup peka mengenai politik.

Dalam, bidang politik, masyarakat modern, kriteria yang ddigunakan untuk menduduki suatu peranan berupa kemampuan yang diuji, seperti tes dan prestasi kerja. Sedangkan dalam masyarakat tradisional kriteria yang diguakan untuk menetukan status, jabatan dan kehormatan, dapat berupa kasta dan atas dasar pemberian alam seperti jenis kelamin, keturunanan, atau hubungan supernatural (Ramlan Surbakti, 1999: 249). Dahulu di Desa Kalikudi yang menduduki posisi terhormat adalah seorang laki-laki atau karena keturunan. Untuk menjadi kepala desa misalnya haruslah seorang laki-laki. Tetapi saat ini tidak harus laki-laki yang menjadi kepala desa, tetapi seseorang yang berpendidikan tanpa memandang jenis kelamin ini tidak lain karena pengaruh dari emansipasi wanita yang berkembang pesat di era modern saat ini.

Ketiga, dalam bidang pendidikan. Modernisasi di Desa Kalikudi seperti adanya pendirian sekolah dasar. Di Desa Kalikudi sendiri ada empat sekolah dasar, 1 TK, dan 1 PAUD. Dengan banyaknya sekolah tersebut diharapkan ada meliputi penurunan angka buta huruf dan peningkatan perhatian pada ilmu pengetahuan, keterampilan, dan kecakapan. Warga Desa Kalikudi pun mulai sadar bahwa pendidikan itu sekarang adalah ini dikarenakan mereka menganggap hal utama yang bisa mengantarkan seseorang memperoleh pekerjaan yang lebih baik walaupun mereka sekolah hanya sampai SMP atau SMA tapi ada juga beberapa yang sampai perguruan tinggi.

Keempat, di bidang agama. Modernisasi di Desa Kalikudi ditandai dengan munculnya sekulerisasi. Menurut M. Francis Abraham, agama makin terasing sebagai suatu institusi yang terpisah dari kehidupan politik, ekonomi, dan sosial, manusia modern lebih suka mengarahkan urusannya kearah sekuler (Abraham, 1991: 25). Di Desa Kalikudi dapat dilihat dari berkurangnya intensitas warga yang berkujung ke mushola saat maghrib. Dahulu saat maghrib warga Desa Kalikudi datang ke mushola untuk shalat berjamaah dan mengaji tetapi sekarang dengan hal tersebut mulai berkurang. Warga lebih suka di rumah menonton TV sembari beristirahat setelah seharian beraktivitas. Kegiatan keagamaan pun seperti pengajian mulai berkurang, bisaanya dahulu kegiatan pengajian di Desa Kalikudi dilakukan satu minggu sekali secara bergilir di rumah warga tetapi sekarang kegiatan pengajian tersebut mulai tergantikan oleh kegiatan lain.

Kelima, dalam bidang kehidupan keluarga ditandai oleh berkurangnya peran ikatan kekeluargaan dan makin besarnya spesialisasi fungsional keluarga. Selain itu menurut PJ Bowman, menyatakan bahwa yang mempunyai pengaruh menentukan perkembangan keluarga modern adalah:

  1. Leburnya pelbagai paguyuban lama, terutama leburnya paguyuban dususn, kerena mangalirnya orang ke kota, di samping itu peristiwa makin luasnya hisup individualistis.
  2. Emansipasi sosial kaum wanita.
  3. Pembatasan kelahiran yang disengaja (Khairuddin, 2008).

Leburnya paguyuban disini bisa dilihat dari berkurangnya kegiatan karang taruna di Desa Kalikudi, ini dikarenakan banyak pemuda Desa Kalikudi yang kurang perhtian dengan adanya karang taruna tersebut. Mereka lebih suka main di rumah teman dan ada juga pemuda yang melakukan urbanisasi ke luar kota setelah mereka lulus SMP ataupun lulus SMA. Emansipasi wanita di Desa Kalikudi dapat ditandai dengan adanya wanita yang bekerja sebagai PNS seperti guru maupun non-guru, ada juga seorang ibu runah tangga yang membuka usaha makanan ringan. Pembatasan kelahiran atau biasa disebt dengan KB di  Desa Kalikudi dapat dikatakan berhasil. Ini dapat dilihat dari penurunan jumlah anak yang dimilki oleh sebuah keluarga berkat adanya KB tersebut. Dahulu sebuah keluarga dapat memiliki anak diatas lima, tetapi dengan adanya KB sebuah keluarga di Desa Kalikudi sekarang hanya memiliki dua sampai tiga anak saja.

Keenam, dalam bidang stratifikasi sosial. Perubahan ke arah moderisasi dapat dilihat adanya penekanan pada mobilitas dan prestasi individual ketimbang prestasi yang dimiliki seseorang. Macam-Macam Status Sosial dalam masyarakat yang membedakan tingkat status sosial dalam masyarakat:

1.Ascribed Status

Ascribed status adalah tipe status yang didapat sejak lahir seperti jenis kelamin, ras, kasta, golongan, keturunan, suku, usia, dan lain sebagainya.

2. Achieved Status

Achieved status adalah status sosial yang didapat sesorang karena kerja keras dan usaha yang dilakukannya. Contoh achieved status yaitu seperti harta kekayaan, tingkat pendidikan, pekerjaan, dll.

3. Assigned Status

Assigned status adalah status sosial yang diperoleh seseorang di dalam lingkungan masyarakat yang bukan didapat sejak lahir tetapi diberikan karena usaha dan kepercayaan masyarakat. Contohnya seperti seseorang yang dijadikan kepala suku, ketua adat, sesepuh, dan sebagainya (http://organisasi.org/jenis-jenis-macam-macam-status-sosial-stratifikasi-sosial-dalam-masyarakat-sosiologi).

Dilihat dari status sosial yang dimiliki masyarakat tersebut di Desa Kalikudi sekarang ini tidak menekankan dengan adanya status sosial seseorang yang diberikan sejak lahir. Warga Desa Kalikudi saat ini cenderung melihat orang yang mempunyai prestasi yang baik mempunyai status sosial yang tinggi, dilihat dari kerja keras dan usaha yang dilakukan seseorang (achieved status) contohnya dilihat dari segi harta kekayaan, tingkat pendidikan, pekerjaan, dll

C.    Penutup

Kesimpulan

Perdesaan saat ini mengalami modernisasi di segala bidang begitu juga seperti Desa Kalikudi saat ini. Modernisasi di Desa Kalikudi meliputi perubahan fisik seperti dibangunnya jalan raya yang berasapal mulus, betonisasi selokan maupun irigasi, pembangunan sekolah-sekolah, pembangunan rumah yang permanen, dan lain sebagainya, sedangkan perubahan nonfisik dapat dilihat dengan adanya perubahan nilai dan norma masyarakat, perubahan mata pencaharian, munculnya sifat konsumtif, individualisme, sekulerisme, dan lain sebagainya.

Daftar Pustaka

 

Abraham, M. Francis. 1991. Modernisasi di Dunia Ketiga Suatu Teori Umum Pem-

bangunan (diterjemahkan oleh M. Rusli Karim). Yogyakarta: PT Tiara Wa-

cana.

Bintarto. 1984. Interaksi Desa-Kota dan Permasalahannya. Yogyakarta. Ghalia In-

donesia

Horton, Paul B. dan Chester L. Hunt.1992. Sociology (diterjemahkan oleh Aminudin

Ram). Jakarta: Erlangga.

Khairuddin. 2008. Sosiologi Keluarga. Yogyakarta: Liberty

Ramlan Surbakti. 1999. Memahami Ilmu Politik. Jakarta: PT Gramedia

Stompka, Piotr. 2008. Sosiologi Perubahan Sosial (diterjemahkan oleh Alimandan).

Jakarta: Prenada Media Group.

Syahrial Syarbaini dan Rusdiyanta. 2009. Dasar-dasar Sosiologi. Yogyakarta: Gra-

ha Ilmu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s