Dramaturgi Erving Goffman

Erving Gofman menganalogikan dunia dengan panggung sandiwara dimana individu-individu menjadi actor yang memegang peran dalam hubungan sosial sebagai representasi yang tunduk pada aturan yang baku. Dalam panggung sandiwara itu seseorang harus mampu menampilkan “kesan realitas“ kepada sesamanya agar bisa meyakinkan gambaran (citra) yang hendak diberikan kepada orang lain. Pandangan tentang diri itulah yang dinamakan dramaturgi.
Dalam pndangan tersebut diri buknlah milik aktortetpi lebih sebagi hasil intersi dramatis antara ator dan audien. Diri adalah pengaruh drmatis yng muncul dari suasana yang ditampilkan. Dramaturgi Goffman memperhatikan proses yng dapat mencegah gangguan atas penampilan diri. Meski bagian besar bahasannya ditekankan pada interaksi dramaturgis ini, Goffman menunjukan bahwa pelaksanaannya adalah sukses. Hasilnya adalah bahwa dalam keadaan biasa, diri yang kooh serasi dengan pelakunya dengan penampilannya berasal dari pelaku.
Goffman beasumsi bahwa saat berinteraksi aktor ingin menampilkan perasaan diri yang dapat diterima oleh orang lain. Tetapi ketika menampilkan diri aktor menyadari bahwa anggota audien dapat mengganggu enampilannya. Oleh karena itu aktor menyesuaikan diri dengan pengendalian audien terutama unsur yang dapat mengganggu. Aktor berharap perasan diri yang mereka tampilkan kepada audie cukup kuat dan mempengaruhi audien. Aktor pun berharap audien akan bertindak seperti yang diinginkan aktor dari mereka. Goffman menggolongkan hal tersebut sebagai manajemen pengaruh.
Dalam dramaturgi ini ada yang disebut dengan front stage dan back stage. Yang pertama front stage, front adalah bagian pertunjukan yang umumnya berfungsi secara past dan umum untuk mendefinisikan situasi bagi orang yang menyaksikan pertunjukan.
Dalam dramaturgis khususnya mengenai front stage orang pada umunya mencoba mempertunjukan gambaran idealis mengenai diri mereka sendiri di depan umum, maka tanpa terelakan mereka mersa bahwa mereka harus menyembunyikan sesuatu dalam perbuatan mereka. Pertama aktor ingin menyembunyika kesenangan rahasia yang digemari pada masa lalu yang bertentangan dengan prestasi mereka. Kedua aktor ingin menyembunyikan kesalahan yang telah dilakukan dalam menyiapkan langkah yang telah diambil untuk memperbaiki kesalahn itu. Ketiga, aktor mungkin merasa perlu menunjukan hasil akhir dan menyembunyikan proses yang terlibat dalam menghasilkannya. Keempat, aktor mungkin perlu menyembunyikan dari audien bahwa dala membuat suatu produk akhir telah melibtkan pekerjaan kotor. Kelima dalam melakuan perbuatan tertentu aktor menyelipkan standar lain. Keenam aktor mungkin perlu menyembunyikan penghinaan tertentu atau setuju dihina asalkan perbutannya dapat berlangsung terus. Aspek dramaturgi lain dalam front stage adalah aktor ingni menympaikan kesan bahwa mereka lebuha akrab dengan audien ketimbang dalam kehidupan sebenarnya.
Sedangkan dalam back stage adalah dimana fakta disembunyikan di depan atau berbagi jenis tindakan informal mungkin timbul. Back stage biasanya berdekatan dengan front stage tetap juga ada jlan memintas diantara keduanya. Pelaku tak bisa mengharapkan anggota penonton didpean mereka muncul di belakang. Mereke terlibat dalm pengelolan kesan utuk memastikannya. Pertunjukan mungkin menjadi sulit ketka aktor mampu mencagah penonton memasuki pentas belakng. Juga ada bidang ketiga bidang residual, yang termasuk panggung depan atau belakang.

diringkas dari buku Teori Sosiologi Modern, George Ritzer dan Douglas J. godmann 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s