Konflik Menurut Lewis Coser

Lewis coser merupakan Pelopor sosiologi konflik struktural. Sosiolog kelahiran jerman dan menjadi warga amerika dengan proses naturalisasi. memunculkan teori fungsi (positif) konflik sosial. kontribusi dalam sosiologi konflik: konflik sosial sebagai suatu hasil dari faktor2 lain daripada perlawanan kelompok kepentingan, konsekwensi konflik dalam stabilitas dan perubahan sosial konflik memiliki fungsi terhadap sistem sosia.

Seseorang semakin sering berkonflik secara positif maka mereka akan semakin dekat dengan orang yang berkonflik dengan dirinya itu, lewis juga mengatakan bahwa konsensus sosial itu diawali oleh konflik, karena berawal dari konflik itulah kemudian pihak2 yang berkonflik akan mempertemukan keinginan2 mereka dengan cara membuat konsesus.

konflik akan cenderung meningkatkan daripada menurunkan penyesuaian sosial adaptasi dan memelihara batas kelompok. konflik muncul ketika ada akses dari penuntut untuk memperoleh imbalan sesuai dengan kerjanya.

konflik fungsional akan memberikan dampak bagi sistem sosial sebagai berikut: menstabilkan hubungan, memfungsikan kembali keberadaan keseimbangan, menambah munculnya norma2 baru, menyediakan mekanisme bagi penyesuaian diri yang terus menerus dari keseimbangan kekuasaan, mengembangkan koalisi dan asosiasi baru, menurunkan isolasi sosial, dan menyumbangan untuk pemeliharaan garis batas kelompok.

Secara umum, selanjutnya dibawah kondisi khusus, konflik akan menghasilkan keadaan yang lebih stabil, fleksibel dan sistem sosial yang terpadu. Perubahan sosial tidak terjadi melalui proses penyesuaian nilai2 yang membawa perubahan, tetapi terjadi atas adanya konflik yang menghasilkan kompromi2 yang berbeda dengan kondisi semula. Teori ini didasarkan pada pemilik sarana2 produksi sebagai unsur pokok pemisahan kelas dalam masyarakat. Konflik juga memiliki kaitan yang erat dengan struktur dan juga konsensus.

Konflik tidak hanya muncul karena hostile feeling tetapi karena hostile behavior.

Konflik adalah penyelisihan mengenai nilai2 atau tuntutan2 yang berkenaan dengan status, kuasa dan sumber2 kekayaan yang persediaanya tidak mencukupi.

Konflik dapat terjadi antar individu, antar kelompok dan antar individu dengan kelompok.

Konflik dengan luar (out group) dapat menyebabkan mantapnya batas2 struktural, akan tetapi di lain pihak konflik dengan luar (out group) akan dapat memperkuat integrasi dalam kelompok yang bersangkutan. Konflik internal menguntungkan kelompok secara positif.

Dalam relasi2 sosial terkandung antagonisme, ketegangan atau perasaan2 negatif termasuk untuk relasi2 kelompok dalam, (in group) yang di dalamnya terkandung relasi2 intim yang lebih bersifat parsial. Semakin dekat hubungan akan semakin sulit rasa permusuhan itu diungkapkan. Akan tetapi semakin lama perasaan ditekan maka kemungkinan konflik meledak, mungkin akan sangat keras.

-Sumber Buku Saya-

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s