Pertanyaan seputar Masyarakat Multikultural

1. Apa manfaat yang didapatkan setelah mengkaji masyarakat multikultural?

Jawab :
Manfaat yang saya dapatkan setelah mengkaji mata kuliah masyarakat multikultural sampai saat ini adalah saya menjadi tahu tentang apa itu sebenarnya multikulturalisme sehingga mengetahui bagaimana cara bergaul dengan individu lain dengan baik tanpa memandang adanya perbedaan, baik itu bahasa, suku bangsa, maupun budaya sebagai suatu penghalang dalam bergaul, justru sebaliknya bahwa perbedaan itu sebagai pemersatu bangsa Indonesia. Ini dilakukan dengan memandang individu atau kelompok lain mempunyai derajat yang sama, perlakuan yang sama juga dengan individu atu kelompok lain dengan kita tanpa memperdulikan adanya perbedaan tersebut dan sebisa mungkin kita juga menghilangkan pandangan stereotip terhadap individu maupun kelompok lain.
Selain itu kita juga sebagai calon guru sosiologi bisa menerapkan pendidikan multikulturalisme itu sendiri dalam proses pembelajaran yaitu dengan tidak membeda-bedakan antara murid yang pintar dan yang bodoh. Kita bisa mengajarkan bahwa individu atau kelompok lain mempunyai derajat yang sama (dalam hal ini para siswa dikatakan mempunyai kemampuan yang sama), kita juga harus memperlakuan siswa yang satu dengan yang lain dengan perlakuan yang sama antar siswa tersebut. Dengan kata lain kita menerapkan pendidikan multikulturalisme ini nantinya diharapkan dengan pendidikan ini dapat menentang bentuk-bentuk diskriminasi di sekolah, guru maupun siswa mampu menanamkan nilai-nilai multikulturalisme, dan mempunyai karakter yang kuat untuk bersikap multikulturalisme.

2. Jelaskan apa yang dimaksud dengn hak perorangan dan hak kolektif, dan bagaimana aplikasinya dalam kehidupan bermasyarakat di Indonesia!
Jawab :
Yang dimaksud dengan hak perorangan adalah atau hak individu adalah hak yang dimiliki oleh setiap orang sebagai individu. Sedangkan hak kolektif adalah Hak berdasarkan keanggotaan dalam kelompok orang yang berbeda.
Aplikasi hak perorangan dan hak kolektif dalam kehidupan masyarakat adalah sebagai berikut:
• Aplikasi hak perorangan atau individu adalah hak untuk hidup, hak untuk mendapat perlindungan, hak menyatakan pendapat, hak untuk mendapatkan pendidikan, hak untuk mendapatkan pekerjaan dan lain-lain.
• Aplikasi hak kolektif adalah misalnya hak untuk kaum minoritas seperti untuk menghormati agamanya orang Cina yang bertempat tinggal di Indonesia pemerintah mengeluarkan kebijakannya bahwa agama kong hu chu menjadi bagian dari agama-agama di Indonesia.
3. Bagaimana kondisi masyarakat multikultural di Indonesia pada saat ini? Jelaskan dengan analisis dan disertai dengan contoh fenomena yang terjadi di masyarakat!
Jawab :
Masyarakat multikultural memperjuangkan kesederajatan antara kelompok minoritas dan mayoritas, baik secara hukum maupun secara sosial. Multikulturalisme menuntut masyarakat untuk hidup penuh toleransi, saling pengertian antar budaya dan antar bangsa dalam membina suatu dunia baru (Syahrial Syarbaini, Rusdiyanta, 2009: 114).
Menurut pendapat saya bila pernyataan di atas disesuaikan dengan kondisi masyarakat multikultural di Indonesia saat ini, maka kondisi tersebut belum terwujud seperti yang diinginkan contoh dari masyarakat multikulturalisme sendiri diantaranya adanya semboyan “Bhinneka Tunggal Ika” sebagai semboyan persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia; adanya toleransi beragama dilihat dari adanya dialog antar agama. Tetapi sekarang dominasi suatu kelompok terhadap kelompok lain masih ada, perbedaan-perbedaan perlakuan terhadap kelompok lain juga masih ada, tetapi ada kelompok masyarakat yang juga mengajarkan dan mengembangkan multikulturalisme sebagai sumber persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia misalnya adanya pendidikan multikultural.

4. Apa perbedaan pluralisme dan multikulturalisme? Apakah kedua tipe masyarakat tersebut masih ada dalam kehidupan masyarakat Indonesia sekarang?
Jawab :
• Perbedaan pluralisme dan Multikulturalisme:
1. Pluralisme
Menurut R. J. Mouw Dan S. Griffon pluralisme berasal dari kata plural (Inggris) yang berarti jamak, dalam arti ada keanekaragaman dalam masyarakat, ada banyak hal lain di luar kelompok kita yang harus diakui. Lebih luas lagi, pluralisme adalah sebuah “ism” atau aliran tentang pluralitas (dalam S. Ma’arif, 2005: 11).
Menurut Van Den Berghe dalam masyarakat majemuk mempunyai sifat dasar seperti: 1) terjadi segmentasi ke dalam bentuk kelompok-kelompok subkebudayaan yang berbeda satu sama lain; 2) memlikili struktur sosial yang terbagi-bagi ke dalam lembaga-lembaga yang bersifat non-komplementer; 3) kurang mengembangkan konsensus di antara para anggota masyarakat; 4) secara relatif sering terjadi konflik di antara kelompok yang satu dengan kelompok yang lain; 5) secara relatif integrasi sosial tumbuh di atas paksaan; 6) adanya dominasi suatu kelompok kepada kelompok lain (dalam Nasikun, 2009: 75-76).
Di sini pluralisme dapat dikatakan sebagai paham yang mengakui adanya perbedaan-perbedaaan antara suku bangsa, agama, budaya, dll. Selain itu pluralisme mengakui adanya kemajemukan dan dalam masyarakat pluralisme ada perbedaan-perbedaan perlakuan baik antara anggota masyarakat maupun antara kelompok masyarakat, ada dominasi yang kuat kepada yang lemah, dominasi mayoritas kepada minoritas sehingga sering terjadi konflik.
2. Multikulturalisme
Masyarakat multikulturalisme merupakan bentuk dari masyarakat modern yang anggotanya terdiri dari berbagai golongan, suku, etnis, ras, agama, dan budaya. Mereka hidup bersama dalam suatu wilayah lokal maupun nasional dan juga internasional melakukan interaksi secara langsung maupun tidak langsung (Syahrial Syarbaini, Rusdiyanta, 2009: 113).
Dalam masyarakat multikultural, perbedaan kelompok sosial, kebudayaan, suku bangsa dijunjung tinggi. Namun tiddak berarti adanya kesenjangan dan perbedaan hak dan kewajiban di antara mereka. Masyarakat multikultural memperjuangkan kesederajatan antara kelompok minoritas dan mayoritas, baik secara hukum maupun secara sosial. Multikulturalisme menuntut masyarakat untuk hidup penuh toleransi, saling pengertian antar budaya dan antar bangsa dalam membina suatu dunia baru (Syahrial Syarbaini, Rusdiyanta, 2009: 114).
• Menurut pendapat saya kedua tipe masyarakat, pluralisme dan multikulturalisme masih ada dalam kehidupan masyarakat indonesia sekarang. Paham pluralisme dan multikulturalisme ini sudah dijadikan semboyan persatuan bangsa Indonesia sejak dulu yaitu dengan semboyan “Bhinneka Tunggal Ika” yang dapat berarti berbeda-beda tetapi tetap satu jua.
Contoh nyata dari adanya masyarakat pluralisme di Indonesia saat ini di antaranya adalah adanya perbedaan-perbedaan agama, suku bangsa, budaya, bahasa dll; adanya dominasi antara kelompok berduit kepada kelompok miskin; banyaknya suporter-suporter bola di tanah air yang terlibat tawuran karena para suporter tersebut merasa kelompoknya yang paling kuat. Sedangkan contoh dari masyarakat multikulturalisme sendiri diantaranya adanya semboyan “Bhinneka Tunggal Ika” sebagai semboyan presatuan bangsa Indonesia; mulai adanya toleransi beragama dilihat dari adanya dialog antar agama; dalam lingkungan kampus juga terlihat multikulturalisme seperti tidak membeda-bedakan teman walaupun teman tersebut berasal dari suku bangsa, budaya, bahasa yang berbeda. Dari kedua contoh tersebut saya menyimpulkan bahwa pluralisme dan multikulturalisme masih ada di Indonesia walaupun multikulturalisme belum semuanya mengerti atau diterapkan dalam kenidupan masyarakat Indonesia.

5. Buatlah deskripsi tentang kewarganegaraan Indonesia yang multikultural!
Jawab :
Indonesia merupakan salah satu negara yang multikultural karena di dalamnya terdapat keanekaragamna berbagai suku bangsa, bahasa, budaya, dll. Dalam negara yang multikulruralisme diharapkan adanya kesederajatan antara kelompok minoritas dan mayoritas akan hak-hak sesama manusia, semua warganya menghargai perbedaan-perbedaan yang ada pada setiap warganya sehingga integrasi bangsa Indonesia tercapai serta mengurangi terjadinya konflik dalam masyarakat yang multikulturalisme ini dikarenakan tujuan dari multikulturalisme adalah menghargai perbedaan kultural yang ada pada manusia. Negara dalam hal ini berarti diharapkan tidak hanya memandang salah satu kelompok saja tapi juga kelompok lain dalam bangsa Indonesia agar meningkatkan nasionalisme warga negara Indonesia.

Sumber Bacaan:
Nasikun. 2009. Sistem Sosial Indonesia. Jakarta: Rajawali Pers
Syahrial Syarbaini, Rusdiyanta. 2009. Dasar-dasar Sosiologi. Yogyakarta: Graha Ilmu
Syamsul Ma’arif. 2005. Pendidikan Multikulturalisme di Indonesia. Yogyakarta: Logung Pustaka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s