TAFSIR SIMBOLIS KEBUDAYAAN JAWA: SYEKH SITI JENAR

Sitibrit, atau Lemah Abang dan yang lebih popular dikenal Syekh Siti Jenar 829H/1348 – C/1426 M. Berbeda dengan Ulama Walisongo yang berada di lingkar kekuasaan kerajaan Demak, Jenar adalah seorang agamawan yanview-menara-bordir-kudusg berada di Kerajaan Pengging dan dekat dengan penguasanya, Ki Ageng (Kebo Kenanga) Pengging.

Kerajaan Pengging ini beradadi Desa Dukuh, Kecamatan Banyudono, Boyolali sekarang.  Paham Islamnya tidak sesaklek Kudus, tak juga serupa paham Kalijaga. Bagi Jenar, Islam hanyalah sarana, karena itu tak perlu ada gerakan dakwah Islamisasi, apalagi syariatisasi, yang berarti Arabisasi. Saat Kebo Kenanga meminta nasehat tentang perbedaan Islam dengan Hindu dan Budha, Jenar menjawab, “semua agama sama, sama-sama menyembah Tuhan yang Esa, hanya saja tata cara peribadatannya yang berbeda.”

Jenar: seorang intelektual berpaham eksistensialis dan progresif, selalu mencoba menerobos kebekuan untuk meraih kualitas hidup manusia. Ajaran paling terkenal untuk mencapai kesejatian hidup ialah konsep “Kenyataan Tertinggi Manusia yang menyatu dengan Allah.” Seperti Sufi al-Husain ibnu Mansur al-Hallaj, ia sangat memuja kematian karena dengan begitu ruhnya lebih bebas menjadi bagian dari Tuhan. Ajaran penyatuan manusia dengan Tuhan ini sering disalah-artikan sebagai “manunggaling kawula lan gusti”. Bagi Jenar, manusia memiliki kewajiban menuju Tuhan, bukan penyatuan antara Tuhan dengan Manusia sebagaimana yang dipahami aliran kejawen itu.

Jenar menempatkan Tuhan dalam nuraninya. Tuhan sebagai sentral yang tak boleh diganggu oleh unsur keduniawian, termasuk syariat.

—-

Sebagai hamba Tuhan, bukan hambanya para Tuan atau hambanya setan, manusia punya tujuan ke satu arah yang pasti, yakni Ilahi. Sebagaimana diyakini semua pemeluk agama, Tuhan adalah tujuan paling ujung dari kehidupan.

Karena itu manusia harus mendedikasikan perjalanan hidupnya ke arah Tuhan sejak dini agar secepatnya meraih tujuan. Jenar adalah cermin manusia yang memiliki etos kerja hebat dan cepat untuk meraih tujuan. Ia adalah cermin dari kemajuan jaman. Teknologi dan sistem demokrasi barangkali adalah cermin dari simbolisasi jenar.

Sayangnya, karena tidak semua manusia memiliki kualitas sumberdaya yang memadai untuk berjalan di atas kemajuan yang cepat,  pandangannya tak selalu bisa diikuti setiap orang. Ini tercermin dari kenyataan penggunaan teknologi. Seharusnya dengan adanya teknologi persoalan kehidupan lebih mudah dan hemat, tetapi karena diberikan kepada orang-orang yang tidak kompeten teknologi justru sering menjadi masalah.

Demokrasi seharusnya menjadi sarana meraih kesejahteraan, tetapi karena aktor-aktor politiknya masih feodal dan tidak memahami substansi ajaran demokrasi yang terjadi justru menjadi anarki. Demokrasi yang memiliki pilar kontrol, pembagian kekuasaan, dan partisipasi rakyat malah menjadi sarana korupsi dan bagi-bagi kekuasaan para elit.

Ketiga sosok tersebut tentu saja tidak boleh kita tafsirkan secara literal sebagai pribadi yang simbolis. Setiap orang tetap saja memiliki kompleksitas kepribadian. Kita yang hendak belajar dari masing-masing karakter kepribadian tersebut bisa menyerap masing-masing kelebihan dan kekurangan.

—-

dikutip dan edit:

FAIZ MANSHUR: Mantan santri Al-Munawwir Krapyak, Yogyakarta. Menulis buku Entrepreneur Organik.
Artikel ini dimuat di Majalah Bhinneka edisi 4, Tradisi: Bagaimana menilainya?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s