Ciri Khas Masyarakat Jawa

Abdi Dalema.    Bahasa

Orang Jawa adalah orang yang mempunyai bahasa ibu yang sebagian besar bermukim di daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur dengan pusat kebudayaan berkiblat pada Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Ngayogyakarta, meskipun sebagian besar orang Jawa berdomisili di daerah lain namun tata cara kehidupannya baik cara berpikir, berperasaan masih tetap menggunkana pola Jawa, dan mengaku sebagai orang Jawa karena tetap hidup dengan budaya Jawa (Sarjana Hadiatmaja dan Kuswa Endah. 2009).

Bahasa adalah sistem lambang bunyi yang digunakan oleh para anggota suatu masyarakat untuk saling dapat berinteraksi. Dalam pergaulan sehari-hari umunya orang jawa menggunakan bahasa jawa dengan beberapa tingkatan yaitu bahasa ongoko, krama dan krama inggil. Bahasa Jawa ngoko merupakan bahasa apa adanya, tanpa adanya tujuan untuk memberikan penghoramatan sedangkan bahasa Jawa krama merupakan bahasa yang digunakan untuk menghormati seseorang. Bahasa Jawa krama inggil merupakan bahasa untuk menghormati orang lain dan lebih tinggi daripada bahasa Jawa krama.

Bahasa Jawa juga terdiri dari bermacam-macam dialek, diantaranya dialek Banyumasan, dialek Pesisiran, dialek Jawa Timuran, dialek Yogyakarta dan dialek Surakarta.

b.    Falsafah Hidup

Banyak sekali falsafah hidup yang dimiliki oleh orang Jawa. Disini hanya disebutkan beberapa falsafah hidup orang Jawa diantaranya:

Falsafah hidup orang Jawa bahwa hidup manusia di bumi hanya sementara, singgah sebentar ibarat hanya untuk makan dan minum. Oleh karena itu hidup di dunia menurut mereka lebih menonjolkan moralitas dalam hubungannya dengan manusia lainnya karena menurut mereka kebaikan yang dilakukan oleh seseorang di muka bumi akan mengantarkan orang tersebut kembali kepada Tuhan Yang Maha Esa dalam keadaan yang baik seperti awalnya dimana manusia itu dilahirkan juga dalam keadaan yang baik. Konsep tersebut juga dalam kalangan Kejawen dikenal dengan istilah “Sangkan Paraning Dumadi”. Selain itu berbuat baik terhadap sesama juga mendorong terbentuknya suatu keteraturan dalam masyarakat serta terbentuknya kehidupan yang selaras. Dengan mentaati pedoman dalam masyarakat, maka tingkah laku serta hubungan antar manusia akan berjalan secara wajar, yang memungkinkan untuk melakukan aktifitas secara efektif dan efisien.

Salah satu falsafah hidup orang Jawa yaitu sapa nandhur bakalan ngundhuh, dalam ungkapan tersebut dapat dimaknai sebagai siapa yang berbuat ia akan menanggung akibatnya. Sing nandur becik bakal becik undhuh-undhuhane, sing nandur ala bakal ala undhuhundhuhane. Barang siapa menanam kebaikan maka kebaikan pula buahnya, barang siapa menanam keburukan maka keburukan pula buahnya.

Nilai-nilai luhur Jawa yang juga merupakan falsafah hidup orang Jawa dinyatakan ada dua bahaya yang mengancam kehidupan manusia, yaitu nafsu dan egiosme (pamrih). Oleh karena itu seseorang (khusunya orang Jawa) harus dapat mengendalikan nafsunya dan melepaskan pamrihnya. nafsu yang membahayakan dalam masyarakat Jawa disebut dengan Malima yang merupakan lima nafsu yang harus dihindari yaitu madat, madon, minum, mangan main. Bertindak berdasarkan pamrih berupa mementingkan dirinya sendiri dibandingkan orang lain. Pamrih dalam hal ini juga dapat dilihat dari keinginan menang sendiri, menganggap dirinya paling benar, dan mementigkan dirinya sendiri. oleh karena itu nafsu dan pamrih merupakan hal yang harus dihindari dan menjadi pedoman diri seseorang agar bertingkah laku sesuai dengan tuntutan keteraturan sosial.

Dalam masyarakat Banyumasan ada prinsip kerukunan yang dijunjung tinggi dengan filosofisnya yang tinggi, yakni ungkapan tenimbang pager wesi, mendhingan pager tai sehingga melahirkan prinsip aman dan ketentraman dalam bertetangga yang berarti saling menjaga rasa aman dalam kehidupan kolektif.

c.    Tradisi yang melingkupinya

Banyak sekali tradisi yang dimiliki oleh masyarakat Jawa diantaranya upacara keselamatan yang masih banyak dilakukan oleh masyarakat Jawa saat ini. Walaupun di daerah perkotaan upacara keselamatan atau lebih dikenal dengan slametan sudah jarang terlihat tetapi di daerah-daerah pedesaan masih banyak ditemui slametan yang mempunyai tujuan agar keluarga yang melaksanakan selamatan memperoleh selamat. Selamat dalam melakukan pekerjaan, selamat.dalam perjalanan, selamat dalam segala tingkah laku dan perbuatannya. Berbagai jenis upacara selamatan yang masih dilakukan sampai saat ini antara lain upacara tingkeban, babaran, sepasaran, selapanan, pitonan, atau tedhak siten, sunat, perkawinan, kematian.

Upacara-upacara tradisional juga masih banyak dilakukan dalam masyarakat Jawa. Upacara tradisional ini biasanya dilaksanakan pada bulan tertentu dan hari tertentu berdasarkan penanggalan jawa. Upacara tradisonal sendiri juga mempunyai beragam corak yang mana setiap daerah mempunyai ciri khas dan nama yang berbeda-beda. Misalnya di Yogyakarta ada upacara sekaten, labuhan ageng merapi, dll. Di daerah pesisir Pantai Cilacap juga ada sedekah laut. Di daerah-daerah pedesaan ada sedekah bumi. Semua upacara tersebut bertujuan untuk memohon keselamatan maupun sebagai ungkapan rasa syukur terhadap limpahan rahmat yang telah diberikan.

Sumber Pustaka

Asep Rachmatullah. 2010. Falsafah Hidup Orang Jawa. Yogyakarta: Logung Pustaka.

Purwadi. 2008. Pranata Sosial Jawa. Yogyakarta: Tanah Air.

Sarjana Hadiatmaja dan Kuswa Endah. 2009. Pranata Sosial dalam Masyarakat Jawa. Yogyakarta: Grafika Indah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s