Pandangan Cak Nun sekitar Popularitas

Ditulis oleh Uki Bayu Sedjati dalam “Profil Emha: Sindroma Primadona – II” maiyah.net

Popularitas itu sumber kesunyian. Orang yang hidup hanya untuk mencari popularitas adalah orang bodoh. Makin popular seseoarang makin hilang kemerdekaan, atau makin sempit peluangnya untuk menjadi manusia utuh. Sebab, segala perilaku dan pola kehidupannya disorot alias dibentuk dan ditentukan oleh orang banyak: itu penjara namanya.

Penjara popularitas bisa merupakan proses dehumanisasi atau depersonalisasi, menggerogoti kepribadian seseorang. Seyogyanya, orang bukan mencari popularitas karena sesungguhnya hal itu sekedar ‘dampak sosial’ dari suatu reputasi yang diperjuangkan.

Jika saya pakai perspektif filosofis: manusia hidup adalah mencari esensi, bukan sekedar eksistensi. Sebab, esensi itu arahnya bisa bertentangan dengan arah eksistensi. Ketika proses dehumanisasi dan depersonalisasi berlangsung. eksistensi seorang bintang justru bisa menjauhkanya dari esensi kehidupannya sendiri. Ia mengembangkan hal-hal yang tidak esensial, karena harus menuruti tuntutan massa yang artifisial secara budaya.

Karena itu, biasanya orang yang mencari eksistensi mungkin akan memperolehnya tapi tak mendapatkan esensi. Sedangkan orang yang mencari esensi akan memperoleh eksistensi sekaligus. Esensi itu “ainullah, mata Allah,” eksistensi itu “ainunnas, mata manusia.” Jadi, kalau orang terlalu menuruti nafsu puja-puji massa manusia, ia bisa kehilangan Tuhan. Tapi, jika orang mempersembahkan perjuangannya untuk esensi alias untuk Tuhan, ia bisa ‘diutus’ memperoleh eksistensi.

Orang yang hanya mencari eksistensi – egoisme personal manusia, bisa terjebak dalam pola-pola eksistensialisasi kultural, misalnya: hirarki sosial, ekonomi, feodalisme budaya, dan lain-lain. Orang yang jadi bintang film, ia tak bisa jongkok di tepi jalan makan gethuk. Makin meningkat status sosial ekonomi seseorang, ia makin dituntut merubah simbol-simbol budayanya, ia makin dituntut harus tidak sama dengan orang kebanyakan.

Saya sangat khawatir terjebak hirarki budaya seperti itu. Saya ingin dan sejauh mungkin memperjuangkan peluang untuk menjadi manusia apa adanya. Saya harus tetap bisa naik bis, atau sepeda, sarungan dan pakai peci sambil nangkring di warung Tegal, tidak perduli anggapan apakah seorang Emha patut berlaku seperti itu atau tidak.

Saya harus tetap bergaul sejajar dengan semua orang, memperlakukan tukang parkir, penjual kamper, bupati, menteri, tetap sebagai manusia biasa. Saya harus tetap mempertahankan hubungan kemanusiaan, harus bisa bergaul pada level bintang sepuluh, kantor menteri sampai lingkungan tukang ojek dan pengasong. Sebab, seseorang menjadi presiden atau bendahara KUD itu hanya soal fungsi birokrasi.

Saya yakin kemanusiaan lebih tinggi nilainya dibanding segala posisi sosial dan budaya.

Segala posisi pergaulan sedapat mungkin harus dimanusiakan. Saya tidak mau bersikap tidak adil dengan memperlakukan seorang tukang becak hanya sebagai tukang becak, atau seorang menteri hanya sebagai seorang menteri. Sebab yang paling utama dari posisi mereka adalah bahwa mereka itu manusia. Saya bergaul dengan siapa saja tetap sebagai manusia, yang berusaha memanusiakannya dan berharap dimanusiakan olehnya.

Siapapun berlaku sadis jika memperlakukan seorang komandan Kodim hanya sebagai tentara dan petugas keamanan, sebab kita wajib memperlakukannya sebagai manusia yang memiliki kemuliaan lebih tinggi dibanding fungsi sekuritinya, jadi senyumlah kepadanya, dan tawarkan tanganmu untuk memijiti pundaknya yang pegel linu karena sibuk menjalankan tugas negara.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s