Tarekat Kesunyian Cak Nun

Oleh: Mohammad Sobary

Emha Ainun Nadjib, ringkasnya Cak Nun, senang berkelana, njajah paraja milangkori ke mana-mana. Ia sampai hari ini, pada999988_578144112228327_364375974_n dasarnya memang seorang pengelana. Apalagi dulu. Di awal kariernya sebagai dramawan ia gemar -sering atas biaya sendiri- pentas dari satu kota ke kota lain. Dan bukan pentas itu saja yang penting buat mengasah naluri dan kepekaannya sebagai seniman muda yang sedang berjuang di papan bawah, melainkan ia belajar di dalam setiap perantauannya itu. Belajar seperti pemuda lain sebayanya, yaitu di Universitas -ia pernah tercatat sebagai mahasiswa di Fakultas Ekonomi Universitas Gajah Mada Yogyakarta- tak begitu menarik baginya.

Ia tak betah dikurung dalam ‘sangkar’ kemapanan. Termasuk kemampuan berpikir yang merupakan tanda utama dunia kampus. Pemikiran dan ekspresi seninya menunjukkan perlawanannya yang gigih, dan kuat, terhadap semua jenis kemapanan.

Ia belajar dari hidup yang kompleks ini. Ia membaca sikap dan perilaku manusia. memahami cara berpikir. Mengenal orang yang tulus dalam persahabatan, dan mereka yang hanya selalu mencari untung pribadi. Atau orang yang hanya memanfaatkan situasi dan menunggangkan kepentingannya di atas panggung orang lain. Dan aneka macam ketidakadilan sikap manusia, yang ia perangi lewat tulisan-tulisannya.

Dalam berbagai pengembaraannya itu ia dengan sendirinya juga mencatat (dalam hati) ciri-ciri kebudayaan berbagai kelompok etnis yang berbeda satu sama lain itu, dan menandai keunggulan suatu etnis dibanding etnis lain, dan dari tiap-tiap ciri kebudayaan itu ia menemukan nilai-nilai, pandangan dunia, kearifan hidup mereka. Juga, atau mungkin terutama, dari cara hidup orang-orang kecil yang tak terpelajar tapi cerdas dan bijak. Ia pun belajar dari humor-humor mereka, yang memberi mereka daya tahan hidup, untuk meneruskan hidup yang rumit dan getir ini dengan senyum, seolah tak ada apa-apa, seolah kesukaran mereka tak berarti dibanding kenyataan bahwa bagaimanapun mereka toh tetap hidup.

Ini merupakan sebuah fenomena tersendiri. Dan memperkaya wawasan kebudayaannya, yang juga memberinya bekal untuk menjadi sangat lentur menghadapi tantangan hidup. Daya tahannya sebagai seniman terlihat misalnya ketika ia harus berhadapan dengan -di tahun 1980an, 1990an- berbagai tekanan. Termasuk tekanan struktural dan keangkuhan kekuasaan politik yang tak pernah toleran, berkali-kali mencekalnya.

Namun juga sadar akan kecerdasannya. Ia tampil dalam seminar-seminar berdampingan dengan nama-nama beken dan bergelar akdemik tertinggi, yang sekolahnya jauh di luar negeri sana, tapi di forum-forum seperti itu Ainun selalu lebih ‘bintang’ dari siapapun. Apalagi media memujanya. Dengan sendirinya ia yang menempati ‘kursi’ paling terhormat di media yang memberitakannya keesokan harinya.

Berkelana, main drama, diskusi, memberi ceramah-ceramah -dalam jumlah banyak tak dikasih honor, selebihnya dihormati dengan sandal dan tanda mata- membuatnya matang dan bijak menghadapi kenyataan hidup. Terhadap panitia seminar yang culas, yang mendapat dukungan dana tapi Ainun tak mendapat honor pu, sering ia bersabar, tapi tak jarang ia bersikap sabar yang disabar-sabarkan.

Kita maklum. Ini juga sebuah ‘penindasan’ dan ketidakadilan yang tak bisa terus-menerus dibiarkan dengan sikap diam. Tapi orang hampir tak pernah mau tahu, karena kejadian serupa masih tetap diulang dan diulang sejak, saya kira, akhir 1970an hingga sekarang. Orang melihat ketenaran Ainun identik dengan kemampuan ekonomi.

Kalau ketenaran berkorelasi positif dengan kematangan dan kemampuan pemikiran, saya kira betul. Pengetahuan agamanya, kecerdasan berbahasa, dan ketajamannya menyoroti tragedi hidup manusia -rakyat kecil yang tertindas, dan mungkin terutama kesegaran humor-humor orang Madura– membuatnya di mana-mana mendapat kehangatan. Dan kekaguman. Ia pun menjadi makin intens memandang hidup seutuhnya, justru di saat ia sendiri belum, atau tidak mau, mapan seperti orang lain. Ia hidup di Yogya -seolah sekedar asal ada alamat tetap- tapi ia ‘menggelandang’ ke mana saja sebatang kara, dan kemudian ‘mampir’ lagi di rumah kontrakannya di Patangpuluhan, Yogya, dan merdeka menerima siapa saja. Termasuk tetap merdeka dan nyaman andaikata jam 12 siang ia belum mandi dan masih memakai kaos yang sudah dipakainya dua hari lalu.

Wartawan mengelilinginya. Panitia seminar berdatangan. Juga para mahasiswa dan seniman-seniman yang memujanya. Orang-orang itu merasa bertemu Ainun sebagai sebuah kebanggaan tersendiri, seolah baru naik kelas. Dan di Yogya, ‘anak buah’ Ainun minta ampun banyaknya.

Ainun tak hanya main drama. Ia sangat produktif menulis banyak hal. Juga essai-essai kebudayaan yang tak konvensional. Segar. Tajam. Dan nakal. Pikiran-pikiran subversifnya membuat orang tercengang. Buku apa saja yang ia baca, dan kapan, menjadi pertanyaan mereka yang menempatkannya di atas batas orang biasa.

Mereka yang belajar resmi di bangku sekolah yang dungu, dan di kampus-kampus yang sistem ‘ngaji’nya beku dan statis, yang hanya menghapal dalil-dalil tolol yang sudah ketinggalan jaman dan tak mungkin tidak memperoleh gelar doktor ilmu-ilmu sosial -juga yang lulus dari luar negeri- tercengang dan kagum melihat fenomena Aiunun. Ketajaman analisis sosiologis dan politiknya bagus justru karena tak berpola dan tak berkiblat pada teori-teori yang dipaksakan.

Beberapa di antara mereka yang kagum itu -jangan heran- cewek-cewek manis yang bila bisa kebetulan difoto wartawan saat mereka dekat Ainun, akan menyimpannya sepanjang abad. Mereka itu memujanya. (Dan Ainun memang berhak mendapatkannya, dan karena itu mudah pula dimengerti bila ada orang diam-diam iri kepadanya).

Saya menaruh hormat atas kemandirian Ainun. Ia bukan pegawai negeri, bukan pegawai swasta, dan bukan orang ‘kantoran’ manapun. Ia harus ‘mencetak’ uang sendiri. Ini bukan perkara sederhana. Tapi ini juga sebuah ‘kemudahan’, karena kemerdekaanya itu membuatnya tak perlu rikuh dan menimbang ‘tata krama’ birokrasi kantor, tak perlu takut menyatakan sikap politik dan kritik-kritik sosial yang bisa membahayakan kantor bila ia berkantor.

Ia orang pinggiran, yang tak akan pernah, dan tak ingin ada di ‘pusat’. Moralitasnya moralitas orang pinggiran. Sikap politiknya memperlihatkan sikap warga negara yang merdeka dan otonom, yang selamanya tak pernah punya atasan. Dan ini pula yang penting: ia tak punya, dan tak akan bisa punya pamrih apapun. Bila tulisannya baik, ia hanya akan baik pada dirinya. Kebaikan tulisannya, misalnya, tak akan membuatnya naik pangkat atau naik golongan.

Orang yang tak masuk suatu golongan, apalagi Golongan Karya, tak mungkin naik golongan. Ia ibaratnya, di sana sini sendiri. Ia di mana-mana menapak jalan sunyi. Dengan begitu apa status kewarganegaraannya bila bukan pemimpin sebuah tarekat (jalan): Tarekat Kesunyian?

Di pengajiannya yang sudah lebih dari sepuluh tahun diasuhnya, Padhang mBulan, di kampungnya, di Jombang, dan di Kenduri Cinta, ‘pengajian’ jenis lain, seperti seminar tapi seperti pertunjukan pula, yang lebih lima tahun dipeliharanya dengan idealisme, dengan diam-diam, juga cermin cara langkah-langkah orang yang menapak di jalan sunyi, di ‘Tarekat Kesunyian’ tadi. Di sana ia tak diberi honor, Karena ia ketuanya, penyelengara dan pemiliknya.

Pamrih apa yang ada padanya? Sekali lagi tak ada, kecuali, bahwa ia berusaha menyumbangkan gagasan dan pemikirannya untuk menunjukkan jalan lain bagi kita semua, yang sudah pada beku, dan merasa tak lagi menemukan cakrawala yang menyegarkan. Ia memberikan kita sebuah alternatif cara menilai, dan menyikapi hidup. Hanya itu.

Tak ada motif politik -misalnya untuk ancang-ancang menjadi Gubernur DKI, atau untuk nyalon jadi presiden tahun 2009- maupun motif ekonomi di balik Kenduri Cinta. Cinta dikendurikan. Bagi Ainun, cinta itu sesuatu yang harus dibagi rata pada semua makhluk. Mungkin terutama makhluk yang bernama manusia Indonesia yang sedang garang-garangnya, dan kejam-kejamnya terhadap sesamanya.

Dalam kenduri beneran di kampung-kampung kita, tak ada yang kalah tak ada yang menang. Tiap orang pulang membawa ‘berkat’, berupa atau disimbolkan dalam bentuk, nasi kebuli ‘sak wungkus’ untuk dibagi dalam keluarga mereka masing-masing agar manusia hidup penuh berkah.

Ideologi yang ramah dan menempatkan manusia setara satu sama lain inilah yang diadopsi Ainun dalam Kenduri Cinta bulanan di Taman Ismail Marzuki -hanya di halaman- untuk secara simbolis mengajak kita kembali ke kesetaraan yang adil dan beradab yang merupakan ajaran agama maupun ajaran politik kita.

Dan inilah, saya kira, politik sejati yang dikandung dalam gerak kesenian Ainun, guru ‘Tarekat Kesunyian’ kita.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s